Agustus 2019, Inflasi di Kudus Tertinggi di Indonesia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rilis Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018 di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Rilis Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018 di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2019 Kabupaten Kudus mengalami inflasi sebesar 0,82 persen (month on month/ mom) dari bulan sebelumnya. Pencapaian tersebut menjadi inflasi tertinggi di antara kota/kabupaten lainnya di Indonesia.

    Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono menyampaikan, Kudus pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi di Kudus pada Agustus 2019 mencapai 0,82 persen tertinggi secara nasional.

    “Di tingkat nasional, inflasi Kudus paling tinggi, ini perlu mencapat perhatian,” tuturnya, Senin 2 September 2019.

    Penyebab tingginya inflasi di Kudus secara berurutan adalah kenaikan harga cabai rawit, beras, cabai merah, dan biaya pendidikan. Kendati sekolah negeri digratiskan, biaya pendidikan itu mencakup uang komite, seragam, dan buku.

    Selain itu, pos biaya pendidikan juga mencakup periode penerimaan siswa bimbingan belajar. Momentum inilah yang mengerek kenaikan harga, sehingga mendorong inflasi.

    “Biaya pendidikan ini juga terkait permintaan musiman, saat sedang tinggi makanya harga naik,” kata dia..

    Sementara itu, tingkat inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2019 mencapai 0,33 persen mom, dan 3,37 persen secara tahunan (year on year/yoy). Bahan makanan menjadi kontributor utama inflasi secara tahunan, yakni dengan kenaikan sebesar 6,4 persen yoy.

    “Bahan makanan mengalami inflasi terbesar, yakni 6,44 persen yoy. Padahal komponen lain inflasinya hanya sekitar 2-3 persen,” ujarnya.

    Menurut Sentot, faktor utama yang menyebabkan inflasi di bahan makanan ialah distribusi dan musim. Ketika terjadi banjir ataupun kekeringan, suplai berkurang dan permintaan masih tumbuh menyebabkan harga-harga naik.

    Di sisi lain, komoditas beras dan cabai bergantung masa panen. Ketika panen raya lewat, suplai kembali menipis dan mendongkrak harga jual.

    Untuk mengendalikan dan menjaga inflasi Jateng secara keseluruhan, kata Sentot, faktor penting yang harus diperhatikan ialah mengontrol sisi pasokan bahan makanan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.