Malaysia Gencar Gaet Turis RI, Kembangkan Daerah Perbatasan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu objek wisata di Langkawi, Kedah Darul Aman, Malaysia adalah Cenang Beach. (instagram @naturally_langkawi)

    Salah satu objek wisata di Langkawi, Kedah Darul Aman, Malaysia adalah Cenang Beach. (instagram @naturally_langkawi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Malaysia makin gencar mengembangkan destinasi wisata yang lokasinya berdekatan dengan wilayah Indonesia untuk menggaet turis asal RI. Direktur Eksekutif Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Sjahrul Firdaus Faryd mengatakan, negara tersebut juga terus memperbaiki destinasi wisatanya dengan terus menyesuaikan preferensi minat masyarakat Indonesia.

    “Saya melihat Malaysia ini agresif sekali mengembangkan destinasi wisatanya. Negara ini berani menempatkan badan usaha milik negaranya untuk merintis pembukaan beberapa destinasi wisata baru, seperti contohnya di Desaru Coast, Johor. Mereka juga aktif mempromosikan objek wisatanya akhir-akhir ini,” katanya beberapa waktu lalu.

    Dia mengatakan, terintegrasinya sejumlah objek wisata di Malaysia dengan banyak pilihan moda transportasi, membuat minat wisatawan asal RI untuk berkunjung makin tinggi. Selain itu, Malaysia memiliki variasi destinasi wisata yang jauh lebih banyak dibandingkan Indonesia.

    Menurutnya, pelaku usaha pariwisata dan Pemerintah Malaysia saat ini menempatkan wisatawan Indonesia sebagai salah satu target utama untuk ditarik. Posisi target utama penarikan wisman di Malaysia berada di posisi kedua di bawah China.

    “Mereka paham sekali, kita sedang ada problem pada harga tiket pesawat terbang. Maka dari itu mereka gencar sekali promosi pariwisatanya ke negara kita. Akses bagi penduduk Indonesia di bagian barat menuju Malaysia saat ini sangat banyak pilihannya,” tegasnya.

    Selain itu, dia menambahkan saat ini banyak penyedia jasa perjalanan wisata RI yang memasukkan Malaysia dalam paket wisata murah di Asean. Dia mengatakan, biasanya para penyedia jasa perjalanan wisata akan menempatkan Malaysia sebagai destinasi kedua setelah Singapura sebelum menuju ke Thailand.

    Dia memperkirakan, jumlah wisatawan asal RI ke Malaysia akan naik menjadi 4 juta orang pada tahun ini dan terus naik pada tahun-tahun berikutnya. Jumlah itu naik dari realisasi kunjungan wisatawan Indonesia ke negara tersebut pada 2018 yang mencapai 3,2 juta orang.

    Hal senada dikatakan oleh Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) N. Rusmiati. Menurutnya, gencarnya Malaysia memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata bagi masyarakat Indonesia akan berdampak sigifikan dalam beberapa tahun terkahir.

    Dia mengatakan, daya beli wisatawan Indonesia yang cukup tinggi membuat pelaku usaha dan pemerintah Malaysia tergiur untuk memacu tingkat kunjungan wisatawan RI. Rusmiati mengatakan, beberapa pelaku usaha perjalanan wisata di Malaysia bahkan sudah menyiapkan paket wisata segmen premium bagi masyarakat RI.

    “Pelaku usaha wisata di Malaysia saat ini sudah meningkatkan brandingnya sebagai lokasi wisata alternatif dari Singapura bagi masyarakat kelas atas Indonesia. Begitu pula untuk segmen wisatawan kelas menengah, mereka juga punya paket destinasi wisata yang disiapkan untuk menyaingi Thailand,” katanya, Minggu, 1 September 2019.

    Kendati demikian, dia memperkirakan Malaysia belum akan mampu melampaui Thailand sebagai tujuan utama destinasi wisata wisatawan asal RI terbesar. Volume kunjungan wisatawan RI ke Thailand masih akan tetap menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun ke depan.

    Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis Berjaya Hotel & Resorts Malaysia Sidney Chua mengatakan, wisatawan asal Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk ditingkatkan kunjungannya ke Malaysia. Dia menyebutkan, pergeseran pengeluaran masyarakat Indonesia yang kini didominasi untuk kebutuhan leisure menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku usaha bidang pariwisata Malaysia.

    “Bagi kami, turis Indonesia menjadi prioritas ketiga setelah wisatawan dari China dan Singapura. Pandangan ini saya pikir juga berlaku bagi pelaku industri lainnya. Hal ini tampak dari meningkatnya penggunaan Bahasa Indonesia sebagai skill yang harus dimiliki oleh para pekerja di sektor wisata di Malaysia,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.