Harga Cabai dan Emas Diprediksi Sumbang Inflasi Agustus

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapikan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Salah satu penyumbang inflasi adalah bawang merah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapikan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Salah satu penyumbang inflasi adalah bawang merah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memprediksi inflasi pada Agustus 2019 berada di kisaran 0,16 persen month-to-month (mtm). Sedangkan untuk inflasi tahunan diproyeksikan pada angka 3,54 persen year-on-year (yoy).

    “Secara mtm memang ada kecenderungan turun. Tetapi dari sisi inflasi tahunan menunjukkan sedikit peningkatan. Ini lebih dikarenakan low base dari inflasi tahun lalu yang rendah,” katanya saat dihubungi Jumat, 30 Agustus 2019.

    Josua menjelaskan kontribusi terbesar untuk inflasi Agustus 2019 adalah inflasi inti yang diperkirakan berada pada angka 3,20 persen. Salah satu penopang hal ini adalah kenaikan harga emas selama beberapa bulan terakhir.

    Peningkatan harga tersebut disebabkan oleh faktor global berupa perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang tak kunjung usai. Kejadian ini membuat banyak investor beralih ke instrumen lain seperti emas.

    “Selain itu, tahun ajaran baru yang sudah dekat juga turut berdampak terhadap inflasi bulan Agustus,” tambahnya.

    Sementara itu, pada sisi bahan-bahan pangan, faktor penggerak inflasi musiman seperi hari raya sudah mulai berangsur-angsur hilang. Hal ini berimbas pada penurunan beberapa harga bahan pangan seperti bawang merah sebesar 16,7 persen, dan bawang putih sebanyak 8,4 persen.

    “Ada juga yang naik karena permintaannya banyak. Kenaikan harga cabai merah mencapai 8 persen,” kata Josua.

    Josua melanjutkan, pemerintah perlu terus menjaga kestabilan harga bahan pangan. Koordinasi antarpihak terkait untuk menjaga kesediaan barang menjadi vital untuk upaya ini.

    Usaha ini terutama harus dilakukan pada daerah yang berpotensi kekurangan bahan pangan. Kurangnya bahan akan menyebabkan inflasi di daerah tersebut meroket.

    "Transportasi dan distribusi menjadi kunci utama agar inflasi pangan yang selama ini menjadi penggerak utama (inflasi) dapat ditekan. Apalagi, saat ini sedang terjadi kemarau panjang," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?