Komisi XI DPR Beda Pendapat Soal Pertumbuhan Ekonomi 2020

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019.  Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal melambat menjadi 2,9 persen pada tahun 2019. Angka itu turun dibandingkan dari pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 3 persen pada 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019. Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal melambat menjadi 2,9 persen pada tahun 2019. Angka itu turun dibandingkan dari pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 3 persen pada 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, Harry Purnomo pesimistis menanggapi target pertumbuhan ekonomi yang tercantum dalam asumsi makro Rancangan Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2020.

    "Proyeksi RAPBN 2020, PDB kita tumbuh 5,3 persen ini menurut saya ambisius. Mungkin tidak akan terealisasi. Karena pemerintah sendiri outlook 2019 hanya 5,2 persen," kata Harry dalam rapat pembahasan asumsi makro ekonomi di gedung DPR, Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019.

    Dia menilai, faktor yg mempengaruhi Produk Domestik Bruto untuk 2020 tidak ada yang lebih baik dari tahun lalu. "Konsumsi rumah tangga, lembaga non profit, konsumsi pemerintah, ekspor impor, tidak lebih naik dari 2019," katanya.

    Berbeda pendapat, anggota komisi XI lainnya, Jon Erizal menganggap asumsi makro ekonomi khususnya pertumbuhan ekonomi yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada rapat itu bisa tercapai. "Target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen itu  menurut saya moderat," kata dia.

    Sedangkan Johnny G Plate menilai APBN 2020 sangat optimistis. "Saya hanya ingin mengingatkan, faktor global berpotensi resesi," ujarnya.

    Kendati begitu, kata Johny, ada juga faktor global lain yang justru bisa dimanfaatkan Indonesia, seperti masalah yang terjadi di Hong Kong. Dia melihat penduduk Hong Kong saat terjadi demonstrasi beberapa waktu belakangan ini, ada yang bepergian ke Singapore dan negara sekitarnya. Jika itu manfaatkan masuk ke Indonesia, kata dia, bisa membuat arus modal asing dari Hong Kong masuk ke dalam negeri.

    Dalam Nota Keuangan 16 Agustus, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan asumsi ekonomi makro 2020. Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi akan berada pada tingkat 5,3 persen dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya.

    Inflasi, kata Jokowi, akan tetap dijaga rendah pada tingkat 3,1 persen untuk mendukung daya beli masyarakat. Kedua, di tengah kondisi eksternal yang masih dibayangi oleh ketidakpastian, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 14.400 per dolar Amerika Serikat.

    "Pemerintah yakin investasi terus mengalir ke dalam negeri, karena persepsi positif atas Indonesia dan perbaikan iklim investasi. Dengan demikian, suku bunga SPN 3 bulan diperkirakan berada di tingkat 5,4 persen," kata Jokowi.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri kemarin mengatakan bahwa target atau asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen dalam RAPBN 2020 riskan turun alias tak tercapai. Karena itu, diperlukan usaha khusus untuk bisa mencapai target tersebut.

    "Asumsi pertumbuhan ekonomi  5,3 persen pada 2020 memiliki risiko ke bawah yang makin meningkat. Karena itu, diperlukan langkah radikal dan fundamental dari keseluruhan kementerian," kata Sri Mulyani di Kompleks Parlemen DPR, Jakarta Selatan, Selasa 27 Agustus 2019.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.