Perang Dagang AS-Cina Belum Reda, Boeing Mulai Terimbas

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Boeing 747-800, pesawat resmi perdana menteri dan kaisar Jepang.[JASF/The Drive]

    Pesawat Boeing 747-800, pesawat resmi perdana menteri dan kaisar Jepang.[JASF/The Drive]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pabrik pesawat terbang Amerika Serikat terbesar, Boeing Co  mulai terimbas oleh perang dagang antara negaranya dengan Cina. Kelanjutan pesanan pesawat dari Cina pun kini bergantung  pada kesepakatan kedua negara untuk mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung selama setahun terakhir ini.

    Berbicara kepada Reuters di pabriknya di Everett, CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengatakan sulit untuk memprediksi kapan kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina tercapai. "Ini sangat menantang," kata Muilenburg seperti dikutip Reuters, Rabu 28 Agustus 2019.

    Menurut dia, Cina sudah tidak memesan pesawat selama setahun terakhir sejak perang dagang dimulai. "Sulit untuk memprediksi apakah kesepakatan dagang akan tercapai," kata Muilenburg. 

    Namun Muilenburg optimistis jika pada akhirnya kedua pihak akan menemukan solusi karena kepentingan bersama, dan Boeing akan menjadi bagian dari solusi akhir itu. "Kami berharap bahwa jika ada solusi perdagangan, maka hal itu akan bermanfaat bagi pesanan pesawat," katanya. 

    Boeing menyatakan telah mengirimkan lebih dari 25 persen pesawat yang dibuat tahun lalu kepada pelanggan di Cina. Jika perang dagang mereda, diperkirakan akan ada permintaan untuk 7.700 pesawat baru selama 20 tahun ke depan senilai US$1,2 triliun.

    Akan tetapi akibat perang dagang AS dengan Cina, yang akan menyalip Amerika Serikat sebagai pasar penerbangan terbesar di dunia dalam dekade berikutnya, telah memperlambat ekonomi global dan memaksa Boeing untuk menjalani tatanan geopolitik selama lebih dari satu tahun. 

    Di satu sisi, Boeing telah meningkatkan jejak industrinya di hina karena berupaya untuk meningkatkan penjualannya di atas Airbus di Asia. Di sisi lain, eksekutif bersusah payah untuk menghindari bentrok dengan Presiden Donald Trump yang telah berulang kali mengatakan Amerika Serikat harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi pekerjaan dan teknologi Amerika Serikat.

    Para analis mengatakan Cina memperlambat pemesanan pesawat baik dari Boeing maupun Airbus  karena ekonominya goyah. Sehingga maskapai Cina dan menunda keputusan pengadaan pesawat dalam jumlah besar karena menunggu hasil negosiasi perang dagang dengan Amerika Serikat.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?