Insiden KM Santika Nusantara, DPR: Pengawasan Laut Belum Optimal

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah korban kapal terbakar KM Santika Nusantara beristirahat di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat 23 Agustus 2019 malam. Sekitar 64 orang penumpang KM Santika Nusantara dievakuasi ke kapal KM Dharma Ferry VII yang sedang melintas saat KM Santika Nusantara terbakar di sekitar perairan Masalembo. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

    Sejumlah korban kapal terbakar KM Santika Nusantara beristirahat di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat 23 Agustus 2019 malam. Sekitar 64 orang penumpang KM Santika Nusantara dievakuasi ke kapal KM Dharma Ferry VII yang sedang melintas saat KM Santika Nusantara terbakar di sekitar perairan Masalembo. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - Menyusul insiden terbakarnya KM Santika Nusantara di perairan Masalembu, Nusa Tenggara Timur pada Kamis 22 Agustus 2019 lalu, Dewan Perwakilan Rakyat menilai pengawasan angkutan laut belum optimal. Hal ini terbukti dari masih kerapnya terjadi kecelakaan angkutan di perairan laut Indonesia.

    Komisi Perhubungan DPR RI mengkritik pengawasan pemerintah terhadap penyelenggaraan angkutan laut ini. DPR menganggap mekanisme pengawasan pemerintah belum berjalan dengan baik sehingga kecelakaan dalam operasi angkutan laut masih sering terjadi.

    "Khususnya terhadap pemeriksaan barang khusus dan barang berbahaya serta masih adanya data manifes penumpang yang simpang siur," kata Ketua Komisi Perhubungan DPR RI Fary Djemi Francis kepada wartawan di Kupang, Ahad 25 Agustus 2019.

    Pemerintah, ujar Fary, masih harus terus meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan angkutan laut serta pelayanan bagi pengguna moda transportasi laut. "Peningkatan pelayanan di angkutan laut itu seperti penerapan x-ray scanning bagi kendaraan serta pemberlakuan sistem pembelian dan aplikasi tiket secara daring," tambah politikus Partai Gerindra itu.

    Fary juga mengemukakan perlunya penerapan sistem konfirmasi keberangkatan seperti dilakukan dalam moda transportasi udara dan kereta api dalam transportasi laut.

    Berkenaan dengan terbakarnya KM Santika Nusantara, ia mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan Kepolisian segera menyelidiki sebab terjadinya kecelakaan dan menyampaikan hasilnya kepada publik sesuai peraturan perundang-undangan. "Kami ingin agar kejadian seperti ini diusut sampai tuntas sehingga kejadian ini tidak berulang kembali ke depannya," kata Fary. 

    Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menyatakan mulai menyelisik penyebab terbakarnya kapal jenis roll on roll off atau roro KM Santika Nusantara di perairan Masalembu. "Sejumlah data dikumpulkan, termasuk menggali keterangan para penumpang," kata investigator KNKT Nico Maris, dalam keterangan tertulis, Ahad ini.

    Nico mengatakan KNKT masih terus mewawancarai sejumlah penumpang untuk mencari bukti awal. Ia memastikan saat ini penyebab kapal terbakar belum menemui titik terang.

    KM Santika Nusantara yang terbakar membawa ratusan penumpang, yang jumlahnya sampai sekarang masih belum terkonfirmasi secara pasti. Kapal itu juga membawa 84 unit kendaraan berbagai jenis. 

    BISNIS | ANTARA 

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.