2020, PT Dirgantara Indonesia Produksi Perdana Pesawat N-219

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo keluar dari pesawat N219 saat proses pemberian nama pesawat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo keluar dari pesawat N219 saat proses pemberian nama pesawat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, BANDUNG - Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia, M Ridlo Akbar mengatakan, tahun depan pesawat perintis N-219 yang dikembangkan bersama Lapan akan memasuki fase produksi perdana. “Sekarang sedang tahap test-flight dan sertifikasi, targetnya akhir tahun ini mendapatkan Type Certificate untuk pesawat N 219, sehingga awal tahun depan bisa mulai produksi,” kata dia di Bandung, Jumat, 23 Agustus 2019.

    Ridlo mengatakan, pada tahap pertama akan diproduksi 4 unit pesawat N 219. “Untuk dalam negeri dulu. Yang pertama, launching customer dalam negeri,” kata dia.

    Ridlo mengatakan, saat ini sudah 257 unit pesawat N 219 yang dipesan dari dalam dan luar negeri. Lebih dari 150 unit pesanan datang dari luar negeri, sisanya dari dalam negeri. “Luar negeri itu ada dari China, Singapura, UAE, dan Nigeria,” kata dia.

    Ridlo mengatakan, butuh waktu setahun untuk memproduksi pesawat tersebut. “Tahun depan mulai produksi, diharapkan tahun 2021 sudah bisa dihantarkan ke pelanggan,” kata dia.

    Ridlo mengatakan, PT Dirgantara Indonesia sudah membangun 2 unit pesawat prototipe N 219. Pesawat pertama dengan kode PD1 dicat dominan warna putih, diperuntukkan untuk pengujian terbang. “Untuk uji kemampuan stall, uji manuver. Makanya PD1 itu kita sudah bawa ke Nusawiru (Pangandaran), karena untuk uji terbang rendah, lebih aman di pinggir laut” kata dia.

    Pesawat prototipe kedua dengan kode PD2 dicat dominan hijau. Kedua pesawat itu bersama-sama melakukan pengujian terbang untuk menggenapkan 200 jam terbang untuk mengantungi sertifikasi. Dari sisi kinerja terbang, semua lancar,” kata Ridlo. 

    Ridlo mengatakan, pengujian tersebut sekaligus untuk mengetes limit pesawat. “Namanya bayi masih punya baby-sicknes, tapi tidak ada yang berdampak pada keselamatan operasional,” kata dia.

    Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Gita Amperiawan mengatakan, PT Dirgantara Indonesia menargetkan akhir tahun ini sudah bisa menuntaskan sertifikasi pesawat N 219. “Insya Allah akhir tahun ini sudah bisa selesai sertifikasinya. Saat ini sedang melaksanakan flight-test terus,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.