PT Dirgantara Indonesia Kembangkan CN-235 Versi Senjata

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan Agus Setiadji, Wakasal Wuspo Lukito, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro , Kasum Panglima TNI Didit Herdiawan, dan Menteri BUMN Rini Soemarno menaiki tangga pesawat CN 235-220 MPA di hanggar PT. Dirgantara Indonesia  (DI), Bandung, Kamis, 24 Januari 2019. PTDI menyerahkan 1 unit pesawat CN 235-220 MPA dan lima unit helikopter anti kapal selam Panther AS565 MBe. TEMPO/Prima Mulia

    Dari kiri, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan Agus Setiadji, Wakasal Wuspo Lukito, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro , Kasum Panglima TNI Didit Herdiawan, dan Menteri BUMN Rini Soemarno menaiki tangga pesawat CN 235-220 MPA di hanggar PT. Dirgantara Indonesia (DI), Bandung, Kamis, 24 Januari 2019. PTDI menyerahkan 1 unit pesawat CN 235-220 MPA dan lima unit helikopter anti kapal selam Panther AS565 MBe. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan telah menyiapkan pesawat Flying Test Bed (FTB) untuk pengembangan pesawat CN-235 di masa mendatang. “Kita menyiapkan pesawat untuk uji masing-masing komponen, baik itu untuk uji peralatan militer dan peralatan-peralatan yang kita jual kemudian,” kata dia di Bandung, Jumat, 23 Agustus 2019.

    Pesawat FTB CN-235 tersebut dikembangkan dari pesawat seri pertama CN235-10, yang telah dimodifikasi menggunakan teknologi terbaru seri pesawat tersebut yakni versi CN235-220. Pesawat itu sengaja untuk menguji avionik, sistem misi, hingga senjata. ““Nanti bisa untuk perbaikan avionik, mencoba mission system, juga untuk gunship, untuk menambah peralatan senjata,” kata Elfien.

    Elfien mengatakan, kendati pesawat CN-235 sudah dikembangkan dalam berbagai versi, tapi belum pernah dipasangi senjata. “Secara formal kita belum menggunakan. Jadi kita akan tes di FTB, dan kita akan lanjutkan terus,” kata dia.

    Eflien mengatakan, penggunaan FTB tersebut juga untuk memangkas waktu produksi pesawat CN-235. Sebelumnya, versi pengembangan CN-235 langsung di aplikasikan di pesawat milik pemesan, sehingga waktu produksi dihabiskan relatif lama untuk menunggu pengetesan dan sertifikasi. “Selama ini sering kita terlambat, karena kita jualan sekaligus di dalamnya kita ada development, dan development ini kita tidak tahu kapan selesainya dengan pasti,” kata dia.

    Menurut dia, CN-235 masih menjadi andalan PT Dirgantara Indonesia karena terhitung sedikit pesaing di kelasnya. “Dan memang untuk medium and light turboprop ini terbatas penyedia manufaktur, atau industrinya. Dan ini memang menjadi fokus PT Dirgantara Indonesia,” kata Elfien.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.