Rupiah Pagi Ini Melemah Terpengaruh Sentimen Eksternal

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menghitung rupiah di VIP kawasan Cikini, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Kurs rupiah menguat ke posisi Rp 13.947 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu, 6 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menghitung rupiah di VIP kawasan Cikini, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Kurs rupiah menguat ke posisi Rp 13.947 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu, 6 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi ini, 23 Agustus 2019, melemah terpengaruh sentimen eksternal menyusul minimnya sinyal dari the Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga.

    Rupiah melemah sebesar 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp 14.250 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.235 per dolar AS.

    Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta mengatakan sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah terdepresiasi seiring The Fed yang tampaknya belum akan melakukan penurunan suku bunga acuan (Fed fund rate) dalam waktu dekat.

    "The Fed dipandang hawkish sehingga menopang dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia," katanya.

    Ia mengemukakan bahwa hasil notulensi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan sinyal pemotongan suku bunga the Fed akan dilakukan hati-hati mengingat ekonomi Amerika Serikat dinilai masih cukup solid.

    Kendati demikian, menurut dia, pelemahan rupiah relatif masih terbatas setelah Bank Indonesia secara mengejutkan melakukan pemotongan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

    "Langkah BI itu merupakan persiapan di tengah perlambatan ekonomi global, diharapkan juga turut mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga tingkat inflasi tetap rendah," katanya.

    Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan masih panasnya tensi perang dagang juga menjadi salah satu faktor penahan bagi laju rupiah. "Untuk kesekian kalinya, Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan bahwa dirinya berani melawan praktek perdagangan curang yang selama ini dieksekusi oleh Cina. Ini bukanlah perang dagang saya, ini adalah sebuah perang dagang yang harusnya sudah berlangsung sejak dulu," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.