Bunga Acuan Turun, APSyFI: Tak Banyak Pengaruhi Industri Tekstil

Reporter

Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menilai penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen tidak akan banyak berpengaruh pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) lantaran selama ini perbankan menganggap industri ini berisiko tinggi.

“Pada saat itu (saat krisis 1998) industri tekstil memiliki stereotip sebagai sunset industry. Pemulihan prudential banking terhadap sektor TPT belum maksimal,” ujar Executive Member APSyFI Prama Yudha Amdan kepada Bisnis, Kamis, 22 Agustus 2019.

Kamis, Bank Indonesia atau BI memutuskan untuk kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin atau bps, sehingga kini menjadi 5,5 persen. 

Prama menyatakan dasar suku bunga pinjaman yang ditetapkan sektor perbankan sudah tinggi lantaran sentimen buruk ke industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang belum hilang sejak krisis 1998.

Dia mengatakan sentimen buruk tersebut membuat industri TPT dinilai sebagai sektor kredit berisiko tinggi. Suku bunga yang diberikan kepada industri TPT sudah terlampau tinggi. Alhasil, penurunan suku bunga acuan tersebut dinilai memiliki efek terbatas.

Menurutnya, ada dua hal yang dapat dilakukan agar penurunan tersebut memiliki dampak yang maksimal pada industri TPT. Pertama, pemberian predikat industri strategis nasional kepada industri TPT. Dengan demikian, perbankan akan otomatis menurunkan tingkat risikonya kepada industri TPT yang akan ditransmisikan pada suku bunga pinjaman.

Namun, pemberian predikat tersebut dapat memakan waktu yang cukup lama lantaran harus ada pembahasan yang cukup komprehensif.

Kedua, Prama menyarankan perbankan untuk memberikan suku bunga berdasarkan dari sifat sub-sektor industri TPT. Dia mengatakan industri TPT akan semakin bersifat padat karya mendekati proses hilir dan pada modal pada sektor hulu. Dia menyarankan adanya pengelompokan risiko berdasarkan sektor yang ada di industri TPT.

“Yang padat karya mungkin masuk perhitungan sebagai high risk karena bisa shutdown produksi kapan saja. Tapi, yang padat modal tidak bisa karena investasinya besar,” katanya.

BISNIS






Berikut Daftar Lima Sentimen Warnai Industri Properti Tahun Depan

13 jam lalu

Berikut Daftar Lima Sentimen Warnai Industri Properti Tahun Depan

Pengembang di Indonesia diimbau untuk mewaspadai sejumlah sentimen negatif yang membayangi kinerja sektor properti pada 2023.


Alasan Airlangga Minta Perbankan Beri Bunga Spesial bagi Eksportir, Klasik tapi...

2 hari lalu

Alasan Airlangga Minta Perbankan Beri Bunga Spesial bagi Eksportir, Klasik tapi...

Airlangga mengatakan eksportir mengatakan di luar negeri mereka mendapat bunga 3 persen.


Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

3 hari lalu

Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

Rupiah menguat 0,85 persen dari posisi kemarin yang ditutup di level Rp 15.563.


Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

3 hari lalu

Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah menutup perdagangan Kamis, 1 Desember 2022 dengan penguatan 169 poin di level Rp 15.563 per dolar AS.


Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

3 hari lalu

Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai utang Indonesia masih tergolong aman.


Kadin: Industri Fashion Sumbang 17 Persen Ekonomi Kreatif, tapi Berefek ke Emisi Karbon

4 hari lalu

Kadin: Industri Fashion Sumbang 17 Persen Ekonomi Kreatif, tapi Berefek ke Emisi Karbon

Arsjad menekankan aspek berkelanjutan pada industri fashion perlu menjadi perhatian.


Gubernur BI: Koordinasi Erat Jadi Kekuatan RI Hadapi Ekonomi Dunia yang Bergejolak

4 hari lalu

Gubernur BI: Koordinasi Erat Jadi Kekuatan RI Hadapi Ekonomi Dunia yang Bergejolak

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan Indonesia memiliki kekuatan tersendiri untuk menghadapi perekonomian global yang bergejolak.


Nilai Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah 7 Poin, Tersengat Sentimen Kasus Covid di Cina

9 hari lalu

Nilai Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah 7 Poin, Tersengat Sentimen Kasus Covid di Cina

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan akhir pekan ini, mata uang rupiah ditutup melemah 7 poin.


BNI Seoul: Kenaikan Suku Bunga The Fed Menjadi Tantangan Bisnis

10 hari lalu

BNI Seoul: Kenaikan Suku Bunga The Fed Menjadi Tantangan Bisnis

Kenaikan suku bunga acuan The Fed beberapa kali sepanjang tahun 2022 memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan bisnis perbankan.


Kurs Rupiah Ditutup Menguat Rp 15.696 per Dolar AS, Analis: Ada Ancaman Baru

12 hari lalu

Kurs Rupiah Ditutup Menguat Rp 15.696 per Dolar AS, Analis: Ada Ancaman Baru

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 16 poin ke level Rp 15.696 per dolar AS dalam perdagangan Selasa sore, 22 November 2022.