Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen, BI: Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Reporter

Editor

Rahma Tri

Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019. Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal melambat menjadi 2,9 persen pada tahun 2019. Angka itu turun dibandingkan dari pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 3 persen pada 2018. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, penurunan tingkat suku bunga tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

"Ini adalah sebagai langkah preemtive terhadap dampak dari pelambatan ekonomi dunia dan sekaligus sebagai sinergi kami dengan pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," kata Perry saat mengelar konferensi pers di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis 22 Agustus 2019.

Perry menjelaskan, kebijakan penurunan suku bunga juga konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran 3,5 persen. Selain itu, keputusan tersebut diambil di tengah kondisi imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang masih menarik sehingga mendukung stabilitas eksternal.

Penurunan tingkat suku bunga kali ini membuat BI tercatat telah menurunkan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak dua kali tahun ini. Penurunan pertama diputuskan pada 18 Juli 2019 sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Sedangkan sepanjang 2018 kemarin, BI telah menaikkan tingkat suku bunga sebesar 175 bps menjadi 6 persen.

Perry menjelaskan penurunan tingkat suku bunga tersebut dipilih karena BI memandang bahwa sumber pertumbuhan ekonomi domestik bersumber dari permintaan domestik, konsumsi dan juga investasi. Menurut catatan BI, pertumbuhan investasi pada triwulan II 2019 mencapai angka 5 persen.

Selanjutnya, investasi di sektor bangunan menembus angka 5,46 persen dan non bangunan tumbuh 3,7 persen. Kondisi tersebut, perlu dilihat bahwa permintaan domestik masih bisa untuk didorong sehingga bisa menjaga tingkat konsumsi. Langkah itu juga akan diikuti dengan mendorong investasi baik bangunan maupun non bangunan.

"Dengan penurunan ini kami harapkan bisa mendorong permintaan pembiayaan baik dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga. Dengan suku bunga yang turun juga bisa membuat biaya investasi korporasi lebih rendah sehingga meningkatkan permintaan investasi," kata Perry.

Harapannya, kata Perry, setelah penurunan suku bunga, akan terjadi peningkatan permintaan investasi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Baik dari sisi investasi maupun permintaan untuk pembiayaan. Dalam hal ini, baik pembiayaan dari perbankan maupun non perbankan seperti pasar modal maupun dari luar negeri.

DIAS PRASONGKO






Untung Berlipat dari Pasar Saham, Kaesang Pangarep Bagikan Cerita dan Strateginya

5 jam lalu

Untung Berlipat dari Pasar Saham, Kaesang Pangarep Bagikan Cerita dan Strateginya

Putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep membagikan ceritanya dalam berinvestasi di pasar saham.


Prediksi Inflasi Pekan Keempat November 0,18 Persen, Bank Indonesia: Dipicu Harga Telur

10 jam lalu

Prediksi Inflasi Pekan Keempat November 0,18 Persen, Bank Indonesia: Dipicu Harga Telur

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi hingga pekan keempat November 2022 sebesar 0,18 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).


Sebut Harga Tiket Kereta Cepat Terlampau Murah, Ekonom: Jadi Beban Berkepanjangan

1 hari lalu

Sebut Harga Tiket Kereta Cepat Terlampau Murah, Ekonom: Jadi Beban Berkepanjangan

Ekonom menilai proyek kereta cepat akan menjadi beban bagi Indonesia dalam jangka panjang karena harga tiket yang dijual terlampau murah.


Bank Indonesia: Selama Sepekan Modal Asing Masuk Rp 11,7 T, Mayoritas ke SBN

1 hari lalu

Bank Indonesia: Selama Sepekan Modal Asing Masuk Rp 11,7 T, Mayoritas ke SBN

Bank Indonesia (BI) mencatat terdapat aliran modal asing masuk bersih senilai Rp11,71 triliun.


OPEC Perkirakan Industri Migas Global Butuh Investasi USD 12 Triliun pada 2045

2 hari lalu

OPEC Perkirakan Industri Migas Global Butuh Investasi USD 12 Triliun pada 2045

OPEC melakukan kajian World Oil Outlook 2022 di Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) beberapa waktu lalu.


Nilai Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah 7 Poin, Tersengat Sentimen Kasus Covid di Cina

2 hari lalu

Nilai Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah 7 Poin, Tersengat Sentimen Kasus Covid di Cina

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan akhir pekan ini, mata uang rupiah ditutup melemah 7 poin.


SKK Migas Pede Target Investasi USD 13,2 Miliar pada 2022 Tercapai

2 hari lalu

SKK Migas Pede Target Investasi USD 13,2 Miliar pada 2022 Tercapai

Kemal mengatakan, biasanya SKK Migas memasang target investasi antara US$ 10-11 miliar. Namun, tahun ini, target itu naik.


Jumlah Investor Milenial di Pasar Modal Terus Tumbuh, UOB Gelar Wealth Fair 2022

2 hari lalu

Jumlah Investor Milenial di Pasar Modal Terus Tumbuh, UOB Gelar Wealth Fair 2022

President Director UOB Indonesia Hendra Gunawan mengatakan pameran tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat yang ingin berinvestasi.


BNI Seoul: Kenaikan Suku Bunga The Fed Menjadi Tantangan Bisnis

3 hari lalu

BNI Seoul: Kenaikan Suku Bunga The Fed Menjadi Tantangan Bisnis

Kenaikan suku bunga acuan The Fed beberapa kali sepanjang tahun 2022 memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan bisnis perbankan.


Airlangga Buka Peluang Revisi Regulasi untuk Mendorong Industri Migas

3 hari lalu

Airlangga Buka Peluang Revisi Regulasi untuk Mendorong Industri Migas

Airlangga Hartarto meminta agar SKK Migas melakukan langkah-langkah agar situasi iklim investasi maupun insentif bisa lebih baik di industri migas.