Sri Mulyani: Kebijakan The Fed Akan Pengaruhi Asumsi Makro 2020

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Ignite The Nation di Jakarta, Minggu, 18 Agustus 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Ignite The Nation di Jakarta, Minggu, 18 Agustus 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati mengatakan perubahan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed pada 2020 dapat berpengaruh pada asumsi moneter Indonesia. Ia mengatakan asumsi makro yang dirancang pemerintah untuk tahun depan mengacu pada kondisi keekonomian saat ini.

    “Kita tak tahu apakah mereka (The Fed) akan melakukan lagi (penurunan suku bunga), ini akan sangat menentukan pelemahan ekonomi dunia berlanjut atau membaik 2020,” ujar Sri Mulyani saat ditemui seusai rapat paripurna di kompleks DPR Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Agustus 2019.

    The Fed sebelumnya menurunkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak 2008. Pada 31 Juli lalu, The Fed menurunkan suku bunga 25 basis poin lantaran adanya kekhawatiran terhadap ketegangan perdagangan, ekonomi global, dan tekanan inflasi.

    Sri Mulyani mengatakan respons The Fed setelah kebijakan penurunan bunga mesti diantisipasi. Ia mengatakan bank sentral Amerika Serikat itu tersebut saat ini belum memberikan kepastian bakal menurunkan suku bunga kembali atau tidak. Bila yang terjadi adalah sebaliknya, Sri Mulyani mengatakan kondisi ini akan menimbulkan ketidakpastian.

    “Kita lihat kenaikan suku bunga di 2018 itu setelah capital outflow menimbulkan anxiety atau ketidakpastian. Sekarang ini dampaknya terlihat di 2019,” kata Sri Mulyani.

    Adapun faktor kedua yang memukul kondisi global saat ini adalah ketegangan perang dagang yang meningkat antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya, Cina. Perjanjian yang masih alot antar-kedua negara akan berimbas pada kenaikan tarif hingga perubahan sejumlah indikator dan persayaratan perdagangan. 

    Sri Mulyani mengatakan, pengaruh perang dagang yang paling tajam bakal terasa untuk industri adalah manufaktur. “Ini keliatan di PMI (Purchasing Managers Index) dari China yang mengalami pelemahan,” ujarnya. 

    Tak hanya persoalan perdagangan, Sri Muyani mengatakan kondisi global terpapar adanya kondisi politik di Hongkong dan Argentina yang berujung pada ketidakpastian. Ia berharap kebijakan moneter nantinya bakal membalikkan situasi saat ini sehingga meningkatkan optimisme global.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.