Emil Salim Minta Pemerintah Segera Bangun Pelabuhan Samudera

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu dewan juri SATU Indonesia Awards (SIA) 2018, Prof. Emil Salim saat menjadi pembicara dalam acara sosialisasi SIA 2018 di Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada . (foto. Dok. Astra)

    Salah satu dewan juri SATU Indonesia Awards (SIA) 2018, Prof. Emil Salim saat menjadi pembicara dalam acara sosialisasi SIA 2018 di Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada . (foto. Dok. Astra)

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Emil Salim, mengatakan sebagai negara maritim, Indonesia harus mempunyai pelabuhan samudera dengan standar kedalaman minimal 20 meter. Pelabuhan yang bisa untuk sandar kapal-kapal besar itu harus segera dibangun agar Indonesia menjadi pusat poros maritim.

    "Jadi kalau kita bisa membuat pelabuhan dengan kedalaman hingga 20 meter maka kita bisa berubah menjadi center poros maritim dunia," kata Emil saat ditemui di Jakarta Design Center, Senin 19 Agustus 2019.

    Emil Salim mengungkapkan, lebih dari 90 persen perdagangan dunia melalui laut dan  40 persen lalu lintas kapal pengiriman barang akan melewati Indonesia. Sebab, Indonesia masuk dalam jalur sutra ekonomi dan modern maritim  abad 21.

    Situasi ini, tutur Emil, harus dimanfaatkan apalagi keadaan pelabuhan Singapura yang sudah kelebihan kapisitas. Emil juga meramalkan bahwa negara-negara Asia akan menjadi sentra pembangunan. "Maka dengan itu kita perlu membuat pelabuhan samudera yang besar dalam artian yang dalam," ujarnya.

    Emil mengatakan, untuk wilayah perairan yang cocok untuk dibangun pelabuhan samudera ada di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Karena menurutnya, wilayah tersebut dinilai setrategis jika dibangun di sana.. "Saya juga tidak tahu kenapa belum punya sama sekali, padahal orientasi kita menuju poros maritim dunia tapi kenapa belum punya," ucapnya.

    Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menginginkan tujuan bangsa sebagai poros maritim segera terwujud. Tetapi ia menyayangkan, banyak kapal yang melewati lautan Indonesia tetapi kebanyakan lewat atau transit saja, dan tidak menjadikan Indonesia sebagai pusat titik tolak kegiatan maritim.

    "Padahal negara kita luar biasa, dengan jumlah pulau 17.504 dan 111 pulau terluarnya. Panjang pantainya itu nomor 2 di dunia dengan panjang 97 ribu kilometer persegi," tutur Susi.

    Menurut Susi Pudjiastuti, sudah seharusnya bangsa Indonesia kaya dan sejahtera dari lautan. "Laut sebagai masa depan bangsa tidak boleh dijual, tak boleh digadaikan, dan tak boleh ditukar dengan apapun karena laut kita adalah warisan untuk generasi mendatang," tuturnya.

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.