Trump Perpanjang Izin Huawei, Harga Minyak Melonjak

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donald Trump berkicau di Twitter menuntut OPEC menurunkan harga minyak dunia.[Twitter Donald Trump/@realDonaldTrump]

    Donald Trump berkicau di Twitter menuntut OPEC menurunkan harga minyak dunia.[Twitter Donald Trump/@realDonaldTrump]

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Wilbur Ross, memastikan pemerintah Trump akan memperpanjang izin Huawei Technologies Cina selama 90 hari. Dengan demikian, Huawei yang semula masuk daftar hitam pemerintah AS  dapat membeli komponen dari perusahaan AS agar dapat memasok pelanggan-pelanggannya.

    Langkah ini dilakukan sepekan setelah Presiden AS Donald Trump menunda tarif baru pada sejumlah barang impor asal China hingga pertengahan Desember. 

    “Keputusan soal Huawei menyiratkan bahwa Trump sekarang menyadari bahwa hal ini mampu menekan ekonomi global,” ujar Bob Yawger, direktur di Mizuho Securities USA, New York, Senin 19 Agustus 2019, waktu setempat. 

    Seiring dengan perpanjangan izin itu, Bob Yawger menganalisa, spekulan akan masuk dan mendorong kenaikan harga minyak bersama dengan setiap aset berisiko lainnya. Investor mendapat tanda-tanda bullish akan berlanjut dari laporan bahwa Jerman sedang mempersiapkan stimulus fiskal untuk mencegah kemungkinan resesi mendalam di ekonomi terbesar Eropa tersebut.

    Harga minyak mentah naik tajam pada akhir perdagangan, didorong tanda-tanda progress hubungan perdagangan Amerika Serikat-Cina dan ekskalasi ketegangan di Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2019 ditutup melonjak US$1,34 atau 2,4 persen di level US$56,21 per barel di New York Mercantile Exchange.

    Minyak WTI untuk kontrak teraktif Oktober pun melonjak US$1,33 ke level US$56,14 per barel. Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2019 menanjak US$1,10 dan berakhir di level US$59,74 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$3,60 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

    Harga minyak mentah telah jatuh sekitar 15 persen dari puncaknya pada akhir April akibat eskalasi perang dagang Amerika Serikat-Cina, memunculkan gambaran buruk terhadap prospek pertumbuhan global yang sudah lemah. Meski serangkaian serangan terhadap tanker dan fasilitas energi di Timur Tengah telah memberikan dukungan sementara untuk harga, kelebihan pasokan tetap menjadi perhatian utama.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.