Perang Dagang AS-Cina, Emil Salim Anjurkan RI Bermain di 2 Sisi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dewan Penasihat Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Prof Emil Salim. TEMPO/Nufus Nita Hidayati

    Dewan Penasihat Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Prof Emil Salim. TEMPO/Nufus Nita Hidayati

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Emil Salim menganjurkan pemerintah Indonesia bermain di kedua sisi terkait perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina.

    "Kita seharusnya musti politik berkayuh antara dua kekuatan ekonomi tersebut, antara AS dan Cina. Jadi jangan hanya berpihak kepada A ataupun B akan tetapi kita manfaatkan saja," ujar dia saat ditemui di Jakarta Design Center, Jakarta Barat, Senin, 19 Agustus 2019.

    Dia mengatakan, Indonesia sebagai pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam perang dagang, harus bisa memanfaatkan situasi ini. "Kalau mereka mau lewat Indonesia kita berikan mereka fasilitas melalui infrastruktur supaya perdagangan dua pihak tersebut bisa lewat Indonesia," kata dia.

    Dia mengungkapkan sebagai salah satu cara mengantisipasi perang dagang adalah mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang saat ini menikmati bonus demografi. Menurutnya, dengan fokus melakukan program tersebut, ia meramalkan dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melesat ke 7 persen.

    Hubungan AS dan Cina semakin memanas ketika pada 1 Agustus 2019, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen pada barang asal Cina, yang jika diakumulasikan senilai US$ 300 miliar. Kebijakan itu langsung dibalas oleh Negeri Tirai Bambu dengan menghentikan pembelian produk pertanian dari AS.

    Kini, perang dagang Amerika Serikat-Cina juga telah berkembang kepada nilai tukar mata uang Cina. Depresiasi yuan anjlok hingga ke angka 7 Yuan per dolar AS. Pelemahan Yuan ini ternyata juga berimbas kepada anjloknya nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp 14.200

    Kemudian setiap kali Trump mengumumkan akan mengenakan kenaikan tarif impor dari Cina, indeks dan harga sama di bursa turun. Misalnya indeks Dow Jones turun 2.9 persen pada Senin, 5 Agustus 2019, saat Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif ini. Kondisi serupa dialami bursa Nasdaq, yang turun sekitar 3.5 persen usai pengumuman terkait perang dagang ini.

    EKO WAHYUDI l BUDI RIZA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.