Amankan Produksi, Kementan Kawal Petani Menerapkan SistemTabela

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kementan kawal petani dengan menyiasati OPT pada sistem tanam benih langsung (tabela) hambur.

    Kementan kawal petani dengan menyiasati OPT pada sistem tanam benih langsung (tabela) hambur.

    INFO BISNIS — Badan Meterologi dan Geofosika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus 2019. Namun, meskipun kini sudah memasuki musim kemarau, tidak membuat para petani komoditas padi sawah di daerah Pantura berhenti menanam padi.

    Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Enie Tauruslina mengatakan untuk mengejar jadwal tanam dan memafaatkan sumber air yang tersisa, sebagian petani di daerah pantura menerapkan sistem tanam benih langsung (tabela) hambur. Selain itu, sistem tabela pun dipercaya dapat menekan biaya produksi terutama dalam penggunaan tenaga kerja.

    "Namun, sistem tanam tabela ini juga harus memperhatikan risiko serangan OPT. Dengan teknik tabela ini, harus antisipasi juga kewasapadaan terhadap serangan hama dan penyakit," ujar Enie di Jakarta, Sabtu 17 Agustus 2019.

    Salah seorang petugas OPT dari Balai Besar Peramalan OPT, Irwan menambahkan, saat membudidayakan padi dengan menggunakan sistem tabela hambur ini, diharapkan untuk mewaspadai lima jenis OPT. Apa sajakah itu? Tergantung masa pertumbuhannya.

    "Waspada pada OPT burung dan tikus pada saat setelah penaburan benih dilakukan dan waspada pada OPT penggerek, kresek, dan hawar pelepah pada saat tanaman memasuki fase vegetatif,” ujarnya.

    Irwan menjelaskan pengendalian OPT burung dan tikus bisa dilakukan dengan cara mekanis maupun kimia. Sementara untuk mengantisipasi serangan burung dapat dilakukan dengan pemasangan jaring sedang untuk pengendalian tikus dapat menggunakan perangkap.

    “Perangkap ini bisa dikombinasikan dengan Trap Barrier System (TBS, red) atau Linear Trap Barrier System (LTBS, red) dan bisa pula dengan memberikan umpan beracun,” katanya.

    Sedangkan pengendalian OPT penggerek, menurut Irwan, dapat dilakukan dengan cara pemasangan bumbung konservasi. Bumbung korservasi ini digunakan untuk meletakan kelompok telur yang telah diambil dari areal pertanaman yang terserang.

    "Terakhir, untuk OPT kresek dan hawar pelepah dapat dilakukan dengan cara primitif. Cara primitif ini lebih aman karena kita mengaplikasikan agens hayati Paaenibacilus polymixa," ucapnya.

    "Caranya cukup larutkan lima mili per liter air larutan Paenibacillus polymyx pada saat perendaman benih dan semprotkan pada seluruh bagian tanaman pada usia tanaman dua, empat, enam minggu setelah tanam dengan konsentrasi 5 mili per liter air,” kata Irwan. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.