Mendag Sebut Ekspor Nonmigas Maksimal Tumbuh 8 Persen Tahun Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) berbincang dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sebelum mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat 3 Mei 2019. Ratas tersebut membahas persiapan menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah. ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) berbincang dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sebelum mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat 3 Mei 2019. Ratas tersebut membahas persiapan menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah. ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memprediksi target ekspor Indonesia untuk sektor nonmigas sampai akhir 2019 ini hanya akan tumbuh 8 persen atau mencapai US$ 175 juta. Ia mengatakan kondisi perdagangan belakangan terpukul oleh sejumlah faktor, baik eksternal maupun internal. 

    "Yang kita hadapi saat ini rasanya (karena efek) pemilu, kemudian (perang dagang) AS (Amerika Serikat)-Cina yang kondisi masih tetap (sama) kemudian Brexit juga, ditambah (ketegangan) Jepang dan Korea," kata Enggar saat ditemui seusai diskusi Standard Chartered Bank bertajuk CEO Connect di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 19 Agustus 2019. 

    Target ekspor tahun ini jauh lebih rendah ketimbang target pertumbuhan ekspor tahun lalu. Pada 2018, pemerintah menargetkan ekspor tumbuh sebesar 11 persen. Namun, karena faktor eskalasi perang dagang, realisasi pertumbuhan ekspor hingga pengunjung tahun lalu hanya mencapai 6,7 persen atau menjadi US$ 167,8 juta dari 2017 yang sebesar US$ 153 juta. 

    Enggar mengakui, Indonesia telah memasang strategi untuk menggenjot kinerja ekspor tahun ini. Pertama, memfokuskan kembali produk ekspor dari produk primer ke produk industri atau olahan. Kementerian juga bakal melakukan diversifikasi produk ekspor. 

    Kedua, memperbaiki manajemen impor. Ketiga, membuat perjanjian perdagangan dengan mitra dagang di negara-negara baru yang potensial. Ia mencontohkan, dalam waktu dekat, Indonesia akan meneken perjanjian dengan Mozambik guna memperluas pangsa ekspor di Afrika Timur. 

    Keempat, memperluas ekspor ke pasar-pasar non-tradisional. Kelima, mengintensifkan promosi melalui pameran-pameran perdagangan. Keenam, mempromosikan ekspor jasa. Dan ketujuh, menciptakan iklim perdagangan yang kondusif. 

    Enggar mengatakan, sepanjang 2019, ada enam produk ekspor yang akan diprioritaskan digenjot. Di antaranya meubel dan produk kerajinan dari kayu, makanan dan minuman, tekstil, otomotif; elektronik, dan produk-produk kimia. 

    Namun, Enggar mengakui pemerintah mesti bekerja keras untuk merebut pasar lantaran saat ini ekspor Indonesia kalah dengan beberapa negara. "Market share kita kita jauh sekali dengan Vietnam dan Thailand," ujarnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.