Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Prospek Pasar Properti di Jakarta?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara kawasan Bukit Nyuling, Tumbang Talaken Manuhing, Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Kamis, 25 Juli 2019. Bukit Nyuling itu merupakan salah satu daerah yang menjadi calon ibu kota baru menggantikan Jakarta. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Foto udara kawasan Bukit Nyuling, Tumbang Talaken Manuhing, Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Kamis, 25 Juli 2019. Bukit Nyuling itu merupakan salah satu daerah yang menjadi calon ibu kota baru menggantikan Jakarta. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan diperkirakan secara tak langsung bakal menimbulkan gejolak di pasar properti khususnya terhadap ibu kota semula yakni Jakarta.

    Associate Director Paramount Land Muhammad Nawawi menyebutkan, kalangan pasar merespons pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi tentang ibu kota baru di Sidang Tahunan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah pada Jumat pekan lalu. Meski belum ditentukan lokasi pastinya, namun dinilai bakal membawa keuntungan dan kerugian buat sektor properti.

    Nawawi menjelaskan, keputusan presiden untuk memindahkan ibu kota adalah keputusan tepat, namun tidak yakin bisa segera selesai dalam waktu singkat. Dampaknya ke pasar properti di Jakarta diperkirakan akan terlihat langsung di bidang pemerintahan, bisnis, atau industri.

    "Kalau orang-orangnya pindah ke sana (Kalimantan), aktivitas properti di sini (Jakarta) akan berkurang," ujar Nawawi, Ahad, 18 Agustus 2019. Ia memperkirakan properti di Jakarta bakal dijual dan nilainya turun.

    "Dampaknya ke value tanah, dari per lokasi akan bergetar, entah ke atas atau ke bawah. Harga propertinya juga akan terpengaruh," kata Nawawi.

    Dengan itu, penjualan pengembang juga dikatakan akan terpengaruh karena sentimen penjualan properti tak diikuti oleh ramainya pembeli. "Dalam jangka panjang, pengembang besar banyak bangun ribuan hektare itu perlu waktu 30-40 tahun, butuh banyak masyarakat dan bisnis yang terlibat. Kalau targetnya 7 atau 10 tahun saja saya enggak yakin."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?