Tarif untuk Produk Cina Ditunda, IHSG Ditutup Menguat ke 6.267,34

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -  Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ini ditutup menguat. Penguatan indeks dipicu penangguhan pengenaan tarif oleh Amerika Serikat terhadap barang-barang impor Cina.

    IHSG ditutup menguat 56,37 poin atau 0,91 persen ke posisi 6.267,34. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 10,59 poin atau 1,08 persen menjadi 986,93.

    "Kebijakan Trump (Presiden AS Donald  Trump) untuk menunda pemberlakuan tarif impor 10 persen terhadap produk-produk impor dari Cina yang dimulai pada 1 September mendatang merupakan katalis positif bagi meningkatnya kepercayaan diri dari para pelaku pasar untuk bertransaksi di pasar modal," kata analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama di Jakarta, Rabu, 14 Agustus 2019.

    Dibuka menguat, IHSG nyaman berada di teritori positif hingga penutupan bursa saham. Adapun penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau net foreign sell sebesar Rp573,84

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 527.125 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,96 miliar lembar saham senilai Rp8,47 triliun. Sebanyak 250 saham terpantau naik, 161 saham menurun, dan 131 saham tidak bergerak nilainya.

    Selain IHSG, bursa saham regional Asia antara lain indeks Nikkei menguat 199,69 poin (0,98 persen) ke 20.655,13 dan indeks Hang Seng menguat 20,98 poin atau 0,08 persen ke 25.302,28. Indeks Straits Times juga menguat 0,87 poin (0,03 persen) ke posisi 3.147,6.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.