Industri Komponen Otomotif Lesu, Menperin Ambil Langkah Ini

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto berpose di samping Daihatsu Ayla Turbo Konsep di pameran otomotif GIIAS Surabaya, 29 Maret 2019. Airlangga membuka pameran otomotif perdana GIIAS 2019 The Series. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto berpose di samping Daihatsu Ayla Turbo Konsep di pameran otomotif GIIAS Surabaya, 29 Maret 2019. Airlangga membuka pameran otomotif perdana GIIAS 2019 The Series. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan dukungannya terhadap industri komponen otomotif lokal. Salah satunya, adalah dengan mendorong para pemodal anyar yang masuk ke Indonesia untuk memanfaatkan komponen dalam negeri.

    "Jadi upaya kami adalah dengan mendorong penggunaan local content, kalau persentase local content ditentukan kan mereka harus mencari komponen di dalam negeri," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019.

    Menurut Airlangga, salah satu fenomena yang terjadi di sektor industri komponen adalah bahan baku yang sebagian besar masih impor. Sehingga, industri tersebut masih mengalami defisit.

    Selain itu, kata Airlangga, persoalan lainnya adalah ihwal volume. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) nilai ekspor industri komponen otomotif pada 2018 adalah US$ 3.115,7 juta sementara impornya US$ 4.539,5 juta. Sehingga, defisitnya mencapai negatif US$ 1.423,8 juta.

    Terkait impor bahan baku komponen, Airlangga mengatakan sebagian besar adalah yang berbasis baja. Karena itu, ke depannya, pemerintah mendorong adanya kerja sama antara Krakatau Steel dengan Pohang dan Nippon Steel. "Harapannya impor bisa ditekan."

    Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hadi Suryadipradja menyebut para pelaku industri komponen otomotif mulai mati perlahan. Alasannya, produktivitas di sektor tersebut tak sebanding dengan melejitnya duit yang perlu dikeluarkan untuk membayar upah karyawan.

    "UMP kita naik tiga kali lipat dalam sepuluh tahun, sementara produktivitas berapa, naik sekali sudah bagus. Kalau kenaikan gaji lebih tinggi dari produktivitas artinya apa, tinggal tutup," ujar Hadi.

    Di samping kenaikan gaji yang tidak sebanding dengan kenaikan produktivitas. Harga komponen otomotif juga tidak bisa naik seenaknya. Karena itu lah banyak pelaku indsutri yang terdampak. "Pelaku industri sudah banyak yang tutup," tutur Hadi.

    Salah satu kendala dalam pengembangan industri komponen otomotif adalah masih kurangnya volume penjualan kendaraan bermotor dari produksi dalam negeri. Menurut dia, penjualan yang belum prima berimbas kepada industri komponen. Pasalnya, permintaan yang sedikit membuat biaya produksi tinggi. "Itu terkait volume, kalau volumenya enggak ada mau bagaimana," kata Hadi.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.