Ratu Hemas Desak Bandara YIA Dilengkapi Hotel dan Rumah Sakit

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siluet petugas kebersihan bekerja dengan latar belakang pesawat komersial maskapai Citilink terparkir di Yogyakarta International Airport (YIA) saat

    Siluet petugas kebersihan bekerja dengan latar belakang pesawat komersial maskapai Citilink terparkir di Yogyakarta International Airport (YIA) saat "Proving Flight" di Kulon Progo, DI Yogyakarta, Kamis 2 Mei 2019. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang juga Ratu Keraton Yogya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas mendesak PT Angkasa Pura (AP) I segera melengkapi sarana hotel dan rumah sakit yang dekat aksesnya dengan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo.

    Hal ini menyusul rencana pemindahan semua penerbangan domestik dengan rute luar Jawa dari Bandara Adisutjipto ke bandara YIA mulai Oktober 2019 nanti. “Dengan rencana pemindahan semua rute penerbangan itu ke bandara YIA seharusnya ada persiapan sarana pendukungnya, tadi yang diminta khususnya hotel dan rumah sakit,” ujar Hemas ditemui di sela paparan dengan PT. AP 1 di DPD DIY Selasa 13 Agustus 2019.

    Hemas menuturkan, untuk penyediaan hotel tentu akan sangat bergantung investor yang berminat. Namun untuk rumah sakit yang dekat bandara- yang menjadi persyaratan beroperasinya bandara internasional- menurutnya yang memungkinkan saat ini tak lain rumah sakit PKU Muhammadiyah.

    Rumah sakit PKU Muhammadiyah ini dalam tahap pembangunan di Kecamatan Wates yang dalam operasionalnya dilengkapi peralatan modern.  

    “Pemindahan penerbangan itu perlu dilakukan bertahap karena masih ada beberapa sarana yang kini juga tahap penyelesaian seperti JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan),” ujarnya.

    Hemas juga mendesak akses jalan tol menuju bandara YIA, digarap dengan target terlalu lama yakni 2021 seperti yang direncanakan pemerintah pusat. Hemas mendorong proyek tol bandara itu bisa dirampungkan 2020 karena implikasi pemindahan penerbangan dari Bandara Adi Sutjipto ke YIA akan berdampak besar pada lalu lintas kawasan itu.

    General Manager PT AP I Yogyakarta, Agus Pandu Purnama dalam kesempatan itu menjelaskan pihaknya tengah menyiapkan dua hotel berbintang tiga. “Satu hotel di dalam kompleks bandara dan satu unit rencananya di luar kompleks,” ujar Pandu.  

    Pandu menuturkan, hotel ini merupakan milik Angkasa Pura, bukan investor. Targetnya hotel tersebut sudah berdiri pada Desember 2019 seiring rencana pengoperasian penuh (full operation) bandara baru tersebut.

    “Hotel ini akan dibangun oleh anak perusahaan AP I, Angkasa Pura Hotels dengan 70 unit kamar,” ujar Pandu.

    Untuk hotel yang berada di dalam kompleks bandara rencananya dibangun di antara bangunan terminal dan gedung parkir kendaraan. Hotel ini untuk memenuhi kebutuhan para awak maskapai agar tak terlalu jauh kalau harus menginap.

    “Hotel yang di dalam airport itu difungsikan sebagai tempat istirahat bagi para awak pesawat (aircrew) dari tiap maskapai penerbangan yang mendarat di YIA, sebagian untuk penumpang,” ujarnya.

    Sedangkan di luar kompleks bandara hotel atau airport city yang dibangun Angkasa Pura akan lebih besar.

    Perusahaan plat merah tersebut memiliki lahan yang cukup luas di kawasan kota bandara itu sehingga hotel yang akan dibangun juga berkapasitas lebih besar.

    Pandu mengungkapkan ketersediaan hotel juga menjadi persyaratan yang diajukan maskapai asing untuk mendaratkan pesawatnya di YIA. Terutama jika terjadi kasus cancel flight di mana bisa sebanyak 400 penumpang harus menginap di sekitar lokasi bandara.

    Project Manager Pembangunan YIA PT AP I Taochid Purnama Hadi sebelumnya menyatakan dari perhitungan pihaknya akan ada sekitar 8,5 juta penumpang yang akan menggunakan YIA di awal 2020 nanti seiring operasi penuh bandara tersebut.

    Jutaan orang itu merupakan penumpang dari 65 jadwal penerbangan yang akan dialihkan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta ke YIA itu.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.