Jusuf Kalla Sindir Soal Kontrak Pembangunan PLTP Cuma 10 MW

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan sesi wawancara di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, 23 Juli 2019. Tempo/Friski Riana

    Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan sesi wawancara di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, 23 Juli 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK menyindir perjanjian kerja sama yang dilakukan antara PT Geo Dipa Energi dan PT Inti Karya Persada Teknik terkait penandatanganan kontrak pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Alasannya listrik yang bakal diproduksi dari pembangkit ini hanya sebesar 10 megawatt.

    Ia berujar kontrak tersebut terlalu kecil sampai harus disaksikan langsung oleh pejabat sekelas menteri dan wakil presiden. "Jadi tadi minta maaf tadi dirutnya, ya, mbok kalau mau tanda tangan perjanjian dan dibuka Wapres dan menteri masa 10 megawatt, 200 megawatt kek," katanya di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019.

    Menurut dia, keadaan ini diperparah lantaran kerja sama dilakukan dengan perusahaan asing. "Kalau kerja sama dengan pengusaha lokal boleh, lah, ya. Sudah 10 megawatt, pakai perjanjian, diteken, aduh kelewatan itu, tidak percaya diri," ucapnya.

    Dalam acara tersebut turut hadir Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar, Plt Direktur Utama PT PLN Sripeni Inten Cahyani, Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Riki Firmansyah Ibrahim, dan Presiden Direktur PT Inti Karya Persada Teknik Yasuhiro Hime.

    Kalla juga menyindir pelaksanaan The 7th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition yang dilakukan Indonesian Geothermal Association. Pasalnya meski sudah tujuh kali menggelar pameran, dengan empat di antaranya dibuka oleh JK, produksi dari panas bumi baru sebesar 2 ribu megawatt.

    "Pak ketua, ini kemajuannya lambat sekali. Tujuh kali bikin pameran, hasilnya baru 2 ribu megawatt," ujarnya.

    Kalla meminta pameran-pameran seperti ini ke depan dihentikan. Ia menyarankan para pemangku kepentingan lebih sering turun ke lapangan agar produksi listrik dari tenaga panas bumi makin banyak.

    "Kalau konferensi, apa sih yang dikonferensikan. Semua bikin seminar itu-itu juga yang dibacakan, apa yang lain. Kalau pengetahuan ini belajar saja dari Islandia, Selandia Baru, atau Amerika tentang teknologi, tidak ada yang berat apalagi kalau cuma 10 megawatt apa susahnya itu," ujar Jusuf Kalla.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.