KPPU Akan Sidang Anak Usaha BUMI dan WIKA yang Telat Lapor Merger

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pewartafoto tengah mengambil gambar usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. Wijaya Karya (WIKA) di Kantor Pusat Wijaya Karya, Jakarta, 17 Maret 2017. RUPS tersebut menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 303,55 miliar atau sebesar 30% dari laba bersih Perseroan tahun buku 2016. Tempo/Tony Hartawan

    Pewartafoto tengah mengambil gambar usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. Wijaya Karya (WIKA) di Kantor Pusat Wijaya Karya, Jakarta, 17 Maret 2017. RUPS tersebut menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 303,55 miliar atau sebesar 30% dari laba bersih Perseroan tahun buku 2016. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, JakartaDirektur Penindakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU Hadi Susanto mengatakan lembaganya bakal menindak 12 kasus keterlambatan notifikasi merger perusahaan. Kasus-kasus tersebut tercatat menyeret nama sejumlah anak perusahaan besar, seperti PT Citra Prima Sejati yang merupakan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. yakni  PT Wijaya Karya Beton Tbk.

    Hadi mengatakan timnya sudah mulai penyelidikan soal kasus ketidakpatuhan perseroan sejak awal Maret 2019. Perusahaan yang terindikasi melakukan keterlambatan notifikasi bisa masuk ke tahap investigasi, pemberkasan, hingga diseret ke persidangan.

    "Ini kami investigasi sejak awal Maret, lalu disidangkan mulai minggu depan," ujar Hadi di Kantor KPPU, Jakarta, Senin, 12 Agustus 2019. Dari 12 kasus itu, Hadi menyebut keterlambatan notifikasi merger perseroan berkisar 11 bulan hingga 5 tahun.

    Kewajiban perseroan melakukan notifikasi termaktub dalam Pasal 29 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999. Dalam beleid itu, penggabungan, peleburan badan usaha, hingga pengambil alihan saham yang menyebabkan nilai aset atau nilai penjualan melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan kepada KPPU selambatnya 30 hari kerja sejak tanggal terjadinya aksi korporasi tersebut.

    Aksi korporasi itu mulai dihitung telah dilakukan tatkala perseroan telah melapor kepada entitas terkait. Pada badan usaha privat, batas waktu 30 hari terhitung sejak perseroan melaporkan AD/ART baru perusahaan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sementara untuk perusahaan terbuka dihitung setelah melaporkan aksinya kepada Otoritas Jasa Keuangan

    Adapun, kata Hadi, perseroan wajib melakukan notifikasi untuk aksi korporasi tersebut yang memiliki nilai penjualan lebih dari Rp 5 triliun, asetnya lebih dari Rp 2,5 triliun, dan tidak terafiliasi. Contohnya adalah perusahaan besar mencaplok perusahaan kecil dan menengah yang mengakibatkan kekuatan pasar bisa terkonsentrasi. Berdasarkan beleid yang sama, perseroan bisa dijatuhi sanksi denda maksimal Rp 25 miliar.

    Salah satu dari 12 perkara yang disebut KPPU, adalah keterlambatan notifikasi yang dilakukan PT Citra Prima Sejati. Perusahaan yang berada di bawah holding PT Bumi Resources itu tercatat melakukan transaksi 28 November 2013 dan telat melapor 5 tahun 5 bulan. Selain itu PT WIKA Beton Tbk tercatat telat 4,5 tahun sejak melakukan transaksi mengakuisisi PT Citra Lautan Teduh pada 5 Desember 2014.

    Secara keseluruhan, 12 kasus yang disebut KPPU adalah sebagai berikut.

    1. Akusisi PT Buana Minera Harvest oleh PT Citra Prima Sejati

    2. Akusisi PT Mitra Bisnis Harvest oleh PT Citra Prima Sejati

    3. Akusisi PT MBH Mining Resources oleh PT Citra Prima Sejati

    4. Akusisi PT Citra Lautan Teduh oleh PT Wijaya Karya Beton

    5. Akuisisi PT Anugerah Abadi Multi Usaha oleh PT Ciliandry Anky Abadi

    6. Akuisisi PT Nusantara Infrastructure oleh PT MPTI

    7. Akuisisi PT Indo Putra Khatulistiwa oleh PT Matahari Pontianak Indah Mall

    8. Akusisi PT Gerbang Sawit Indah oleh PT Pancasurya Agrindo

    9. Akusisi PT Mitra Aneka Rizki oleh PT Pasifik Agro Sentosa

    10. Akusisi PT Bintan Mineral Resources oleh PT Lumbung Capital

    11. Akusisi PT MBH Minera Resources oleh PT Lumbung Capital

    12. Akuisi PT Citra Jaya Nurcahya oleh PT Lumbung Capital.

    Atas perkara itu, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk. Dileep Srivastava mengatakan perseroan telah menyampaikan laporan sebagaimana yang diminta oleh otoritas terkait. Sementara, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Beton Yuherni Sisdwi hingga laporan ini ditulis belum menanggapi pertanyaan Tempo ihwal perkara tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.