Perang Dagang Berlanjut, BI: Berpotensi Gerus Investasi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody  Budi Waluyo saat ditemui awak media usai mengikuti salat Jumat di masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Juni 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo saat ditemui awak media usai mengikuti salat Jumat di masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Juni 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia atau BI Dody Budi Waluyo mengatakan kinerja pertumbuhan investasi yang tak membahagiakan salah satunya disebabkan kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina. Dia mengatakan tekanan ekonomi global itu juga membuat kinerja ekspor terhambat.

    "Jadi masih banyak room investasi tumbuh. Tapi, kenapa tumbuh rendah? Sebab ini tidak lepas dari permintaan produksi sendiri yang juga relatif tidak setinggi kalau ekspornya bisa tumbuh," kata Dody kepada sejumlah awak media di Kompleks Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin 12 Agustus 2019.

    Menurut Dody, ekspor yang tengah lesu inilah yang kemudian menekan produksi sehingga membuat minat investor berinvestasi berkurang. Karena itu, kata Dody, dengan ekspor melambat, permintaan produksi berkurang, otomatis membuat investasi berkurang sehingga akan menurunkan pendapatan devisa ekspor.

    Tak hanya menggerogoti ekspor, kondisi perang dagang yang belum menunjukkan tanda-tanya penyelesaian juga mengguncang kondisi pasar keuangan. Kendati demikian, lanjut Dody, kondisi itu tak hanya terjadi bagi Indonesia, sejumlah negara yang berstatus emerging market juga mengalami hal serupa.

    Dody menuturkan, untuk ikut membantu memperbaiki kondisi, Bank Indonesia telah melakukan beberapa kebijakan pendukung dari sisi moneter. Dia menjelaskan, beberapa di antaranya adalah dengan memastikan keberadaan likuiditas yang ada lewat operasi moneter. Kemudian, BI juga telah menurunkan giro wajib minimum atau GWM dan juga tingkat suku bunga acuan

    "Jadi kami berikan kelonggaran terkait kebijakan moneter dari sisi Bank Indonesia," kata Dody.

    Ke depan, kata Dody, ruang-ruang pelonggaran juga masih memungkinkan untuk dibuka khususnya untuk menurunkan tingkat suku bunga. Selain itu, BI telah memiliki sejumlah langkah untuk mengeluarkan kebijakan dari sisi makroprudensial untuk ikut mendorong sektor prioritas khususnya dari sisi ekspor.

    Tak hanya itu, menurut Dody, BI juga ikut mendukung keberadaan finansial teknologi untuk, khususnya dalam memudahkan pembayaran sehingga membuat ekonomi menjadi lebih efisien. Dia mengatakan BI juga ikut mendorong peningkat kualitas produk dari sisi pengusaha UMKM dan juga berbasis syariah untuk mendorong inklusi perekonomian.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.