Riset: Program Amran Sulaiman dan Susi Pudjiastuti Pacu Pertumbuhan Daerah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat memberikan orasi pada aksi Tolak Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Taman Aspirasi, Monas, Jakarta, Ahad, 21 Juli 2019. Menurut Susi menghimbau masyarakat agar tidak menggunakan plastik sekali pakai agar laut Indonesia tidak tercemar oleh sampah plastik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat memberikan orasi pada aksi Tolak Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Taman Aspirasi, Monas, Jakarta, Ahad, 21 Juli 2019. Menurut Susi menghimbau masyarakat agar tidak menggunakan plastik sekali pakai agar laut Indonesia tidak tercemar oleh sampah plastik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas melakukan riset terhadap efektivitas belanja kementerian dan lembaga pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Riset itu menyebutkan program Menteri Amran Sulaiman dan Susi Pudjiastuti memacu pertumbuhan daerah.

    Menurut Direktur Keuangan Negara dan Analisis Moneter Bappenas, Boediastoeti Ontowirjo, peningkatan pada belanja barang di kementerian ternyata memiliki elastisitas atau daya dongkrak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi, ketimbang belanja modal.

    “Dalam perencanaan ke depan, belanja barang yang produktif dapat menjadi terobosan untuk diterapkan pada banyak kementerian lainnya,” kata Boediastoeti dalam paparannya di Gedung Bappenas, Senin, 12 Agustus 2019. Dengan demikian, belanja kementerian bisa menjadi lebih berkualitas.

    Boediastoeti mencontohkan salah satu bentuk belanja barang produktif yang memacu pertumbuhan ekonomi, termasuk ekonomi di daerah adalah peningkatan belanja alat mesin pertanian  atau alsintan dan input produksi. Belanja ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian yang dipimpin Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, maka akan mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah.

    Kedua yaitu belanja barang berupa pengadaan kapal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin oleh Menteri Susi Pudjiastuti. Setiap peningkatan 1 persen belanja pengadaan kapal ini, maka akan berdampak pada 0,13 persen peningkatan subsektor perikanan di daerah. Lalu, 0,07 poin penurunan ketimpangan di dalam suatu daerah yang menjadikan pengadaan kapal tersebut.

    Lebih lanjut, riset ini juga menunjukkan bagaimana efektivitas belanja barang terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satunya lewat peningkatan alokasi anggaran pada 2016 hingga 2017. Dalam periode ini, belanja modal mengalami peningkatan paling tinggi yaitu sebesar Rp 39,1 triliun. Lalu diikuti oleh belanja barang sebesar Rp 31,8 triliun dan belanja pegawai Rp 7,5 triliun. Namun, komponen yang mendorong pertumbuhan ekonomi paling tinggi adalah belanja barang.

    Belanja barang mendorong pertumbuhan ekonomi di periode tersebut hingga 0,08 persen. Sementara belanja modal hanya mendorong 0,03 persen dan belanja pegawai hanya 0,01 persen. Namun masalahnya, belum semua belanja barang dari pemerintah ini menjadi belanja barang yang produktif. Di tahun 2017 misalnya, dari total Rp 333 triliun belanja barang, hanya Rp 42 triliun saja yang menjadi belanja barang produktif. Lalu di 2018, dari total Rp 403 triliun belanja barang, hanya Rp 56 triliun saja yang menjadi belanja barang produktif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.