Bantu Pertamina, Kemenhub Kirim Kapal KN Alugara ke Karawang

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara saat warga membersihkan tumpahan minyak mentah (Oil Spill) di Pantai Desa Cemara Jaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis, 1 Agustus 2019.  TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Foto udara saat warga membersihkan tumpahan minyak mentah (Oil Spill) di Pantai Desa Cemara Jaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis, 1 Agustus 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Untuk membantu PT Pertamina (Persero) mengatasi tumpahan minyak di perairan Karawang, Kementerian Perhubungan akhirnya mengirimkan Kapal Negara (KN) Alugara milik Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, Jakarta.  Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Ahmad menyatakan, kapal tersebut diperbantukan untuk untuk pengamanan dan pengawasan tumpahan minyak PHE ONWJ  di Tanjung Karawang, Jawa Barat, yang terjadi sejak beberapa waktu lalu.

    Menurut keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad, 11 Agustus 2019, KN Alugara merupakan salah satu kapal kelas satu dalam jajaran kapal patroli Indonesian Sea and Coast Guard. Kapal patroli tersebut dilibatkan untuk mengantisipasi jika ada pihak-pihak luar yang mengganggu kapal-kapal yang sedang ditugaskan menggelar oil boom di lokasi tumpahan minyak Pertamina.

    "Secara bergantian kapal-kapal patroli Sea and Coast Guard dari pangkalan PLP Priok dan KSOP Kepulauan Seribu melaksanakan pengawasan dan pengamanan di wilayah tumpahan minyak tersebut," ujar Ahmad saat melakukan pengecekan rutin di Posko Tumpahan Minyak KSOP Kepulauan Seribu, Sabtu 10 Agustus 2019.

    Selain KN Alugara, Pangkalan PLP Tanjung Priok juga menyiapkan KN Jembio untuk bergantian mengawasi dan mengamankan perairan Karawang dengan kapal-kapal kelas III KSOP Kepulauan Seribu. "Untuk cadangan, Pangkalan PLP Tanjung Priok juga menyiapkan satu kapal kelas II yaitu KN Kujang yang saat ini berada di perairan Cirebon untuk setiap saat digerakkan ke lokasi tumpahan minyak," kata Ahmad.

    Sampai dengan Jumat 9 Agustus 2019 pukul 22.00 WIB, total tumpahan minyak yang telah dikumpulkan mencapai 4.803,42 barel. Sementara untuk penanganan onshore, oil boom yang terpasang sepanjang 2.070 meter dan personel yang terlibat sebanyak 2.856 orang yang terdiri dari KSOP Kepulauan Seribu, OSCT, masyarakat sekitar, Pokwasmas, TNI dan Polri.

    Tumpahan minyak terlihat di Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa yang masih dalam proses pembersihan. Untuk Pulau Kelapa, Harapan, Pramuka, Tidung, Pari, Lancang, Ayer dan Arco Ardjuna tidak ditemukan adanya tumpahan minyak.

    "Ditjen Perhubungan Laut melalui KSOP Kepulauan Seribu akan terus melakukan pengawasan terhadap penanganan kebocoran gas dan tumpahan minyak dengan mengerahkan sumber daya baik personel maupun sarana prasarana yang ada agar penyebaran tumpahan minyak dapat dilokalisir dan cepat ditanggulangi," kata Ahmad.

    Selain dukungan kapal patroli Sea and Coast Guard, Kapal Negara Kenavigasian juga telah memasang 13 Buoy di sekitar lokasi kejadian tumpahan minyak di Pertamina, mana 1 buoy sebagai penanda dan 12 buoy sebagai Static Oil Boom. "Secara aktif Stasiun Radio Pantai (SROP) Tanjung Priok menerbitkan Navigational Warning melalui Navigation Telegram dan KSOP Kepulauan Seribu juga mengaktifkan pos pantau di pulau-pulau yang berada di Kepulauan Seribu," ujar Ahmad.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.