Astindo: Padang Kekurangan Atraksi Wisata Malam Hari

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Nagari Subarang memasang bungo salapan saat prosesi Tabuik Naik Pangkek di Kota Pariaman, Sumatera Barat, 23 September 2018. Kota pantai sekitar 20 kilometer dari Kota Padang, Sumatera Barat, itu memiliki perhelatan budaya dan pariwisata yang sanggup menarik ribuan orang untuk datang menyaksikannya, yakni Tabuik, yang merupakan perayaan Asyura (10 Muharram). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Warga Nagari Subarang memasang bungo salapan saat prosesi Tabuik Naik Pangkek di Kota Pariaman, Sumatera Barat, 23 September 2018. Kota pantai sekitar 20 kilometer dari Kota Padang, Sumatera Barat, itu memiliki perhelatan budaya dan pariwisata yang sanggup menarik ribuan orang untuk datang menyaksikannya, yakni Tabuik, yang merupakan perayaan Asyura (10 Muharram). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (Astindo)  Sumatera Barat Nasirman Chan mengatakan Kota Padang memiliki beragam destinasi wisata yang bisa ditawarkan kepada wisatawan siang hari, namun malam hari wisatawan tidak mempunyai banyak pilihan.

    "Boleh dikatakan tidak ada atraksi seni dan budaya di Padang pada malam hari sehingga wisatawan menjadi tidak punya banyak pilihan," kata dia di Padang, Sabtu, 10 Agustus 2019.

    Dia mengatakan pemerintah daerah harus bisa mengemas atraksi seni dan budaya yang bisa tampil secara reguler pada siang dan malam hari, seperti di Bali.

    Dengan demikian, kata dia, perusahaan jasa perjalanan wisata juga bisa menjual paket wisata yang menarik pada malam hari kepada wisatawan.

    Pengalaman selama ini, menurut dia, wisatawan ingin menikmati suasana malam di Kota Padang, namun tidak banyak yang bisa ditawarkan kepada mereka.

    Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat Maulana Yusran mengatakan peluang untuk membuat atraksi seni dan budaya pada malam hari itu terbuka lebar karena jumlah kelompok kesenian di daerah itu yang cukup banyak.

    Selama ini, kata dia, yang bisa melihat seni budaya Minangkabau itu hanya tamu-tamu pemerintahan. Sedangkan wisatawan yang datang secara mandiri terkesan tidak terlayani.

    "Sayang sekali kalau kita punya potensi besar, tetapi hanya untuk tamu-tamu pemerintahan saja. Lebih baik sanggar dan kelompok kesenian itu juga diarahkan agar melakukan pertunjukan bagi wisatawan secara umum baik siang maupun malam," katanya.

    Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Padang Junie Nursyamza menyebut atraksi seni dan budaya untuk wisatawan pada malam hari juga menjadi perhatian Pemkot Padang.

    Pihaknya pernah mencoba memanfaatkan area Simpang Kinol Kawasan Kota Tua untuk atraksi malam tersebut, namun ada penolakan terutama dari pengelola parkir liar yang berasal dari warga setempat.

    Ke depan, kata dia, akan dijajaki kembali lokasi lain yang dinilai cocok untuk atraksi wisata pada malam hari itu, salah satu kemungkinannya di Taman Budaya Padang yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.