Berbisnis Hewan Kurban di Tahun Politik: Dikira Sepi, Ternyata..

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KKP) Kota Solo melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban di tempat penjualan hewan Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Jumat 9 Agustus 2019. Pemeriksaan tersebut untuk memastikan kondisi hewan yang dijual untuk keperluan kurban Hari Raya Idul Adha aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) untuk konsumsi. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    Petugas Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KKP) Kota Solo melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban di tempat penjualan hewan Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Jumat 9 Agustus 2019. Pemeriksaan tersebut untuk memastikan kondisi hewan yang dijual untuk keperluan kurban Hari Raya Idul Adha aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) untuk konsumsi. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, JakartaZabidi, pengusaha sapi dan kambing di kawasan Kembang Beji, Depok, mengaku salah memprediksi peluang bisnis hewan kurban pada masa Idul Adha tahun ini. Ia mulanya memperkirakan dagangannya akan sepi lantaran terimbas oleh sentimen tahun politik.

    "Tahun ini penjualan di luar prediksi, karena biasanya tahun politik kan sepi, tapi ternyata daya beli masyarakat untuk membeli kurban tidak berkurang," ujar dia kepada Tempo, Sabtu, 10 Agustus 2019.

    Ia mengatakan permintaan masyarakat tetap besar. Buktinya, stok sapi yang ia siapkan untuk penjualan selama periode Idul Adha tahun ini sudah ludes sejak H-5 Lebaran. Tahun ini, Zabidi menyetok sapi sebanyak 330 ekor, dengan rincian 250 ekor sapi Bali, 50 ekor sapi Jawa, dan 30 ekor sapi Kupang.

    "Sekarang untuk sapi sudah habis terjual semua, ludes. Karena salah prediksi," ujar Zabidi. Padahal, jumlah itu sudah lebih banyak ketimbang tahun lalu yang hanya 200 ekor. Di samping itu, ia masih memiliki stok kambing sebanyak sekitar 15 ekor dari total stok 150 ekor yang disiapkan.

    Menurut Zabidi, stok sapi jawa dan jawa diperoleh dari peternakannya sendiri di daerah Pati, Jawa Tengah. Sementara untuk sapi Bali, ia membeli dari pemasok asal Bali. Ia menyetok lebih banyak sapi bali lantaran banyak diminati masyarakat.

    Selain karena dagingnya bagus, sapi asal Pulau Dewata memiliki lemak yang tipis dan tulang yang kecil. "Tapi kalau belum bisa perawatan, itu agak susah karena rewel dan sapi Bali ADG-nya kurang. ADG itu penambahan berat hidup per hari," ujar Zabidi.

    Untuk harga, Zabidi membanderol sapi Jawa di kisaran Rp 23-25 juta, sapi Bali Rp 19-20 juta, sapi limosin di kisaran Rp 45 juta, dan kambing Rp 2,5-3,5 juta. Apabila semua dagangannya ludes, Zabidi mengatakan omzet yang dikantongi bisa mencapai Rp 5 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.