Penjualan Eceran Merosot usai Lebaran, BI: Pulih Setelah Juli

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa dirijen sebelum melakukan pengisian ulang BBM bersubsidi di SPBU Kompak, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Rabu 14 November 2018. BBM yang dibeli masyarakat dari agen premium dan minyak solar di Krayan maupun SPBU Kompak di Krayan Selatan memberikan manfaat untuk aktivitas warga dan masyarakat pun merasakan BBM satu harga yang sama dengan kota lainnya di Indonesia. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

    Pekerja memeriksa dirijen sebelum melakukan pengisian ulang BBM bersubsidi di SPBU Kompak, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Rabu 14 November 2018. BBM yang dibeli masyarakat dari agen premium dan minyak solar di Krayan maupun SPBU Kompak di Krayan Selatan memberikan manfaat untuk aktivitas warga dan masyarakat pun merasakan BBM satu harga yang sama dengan kota lainnya di Indonesia. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

    TEMPO.CO, Jakarta -Penjualan eceran di Indonesia pada Juni 2019 mengalami penurunan sebesar 1,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) karena usainya momentum konsumsi tinggi pada Ramadan di Mei 2019, dan Lebaran yang hanya terjadi di awal Juni 2019.

    Bank Indonesia atau BI di Jakarta, Kamis, dalam laporan surveinya mengumumkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) menurun 1,8 persen (yoy), atau berbanding terbalik dengan pertumbuhan agresif hingga 7,7 persen pada Mei 2019.

    Analisis Bank Sentral menyebutkan penurunan terdalam penjualan eceran terjadi di kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang minus hingga 10,9 persen, dan kelompok barang budaya dan rekreasi yang anjlok hingga minus 8,8 persen. Pada Mei 2019, dua kelompok tersebut masih mencatatkan penjualan eceran yang tumbuh positif masing-masing di 0,8 persen dan 1,0 persen.

    Di samping dua kelompok penjualan eceran tersebut, dua kelompok lainnya juga tercatat mengalami penurunan penjualan yakni peralatan informasi dan komunikasi yang minus 8,2 persen dan kelompok makanan, minuman dan tembakau yang minus 3,4 persen.

    Bank Sentral memperkirakan penjualan eceran akan kembali pulih dengan pertumbuhan positif di Juli 2019 karena meningkatnya konsumsi seiring tahun ajaran baru sekolah. Hal itu terlihat dari IPR Juli 2019 yang diprakirakan tumbuh 2,3 persen (yoy).

    "Peningkatan penjualan eceran pada Juli 2019 ditopang oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori, kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, dan subkelompok Sandang," tulis BI dalam laporannya.

    Bank Sentral juga mencatat terdapat perkiraan bahwa tekanan harga di tingkat pedagang eceran pada September 2019 akan menurun. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum tiga bulan yang akan datang sebesar 131,4, lebih rendah dibandingkan dengan 138,3 pada bulan sebelumnya.

    Bank Sentral mensurvei penjualan eceran setiap bulan untuk melihat pergerakan Produk Domestik Bruto dari sisi konsumsi. Survei ini melibatkan 700 responden pengecer di 10 kota besar di Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.