PLN Potong Gaji Pegawai, Indef: Sentimen Negatif Bagi Investor

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menyantap makan malam di sebuah tempat makan yang mengandalkan penerangan listrik saat pemadaman listrik di kawasan Sabang, Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pengunjung menyantap makan malam di sebuah tempat makan yang mengandalkan penerangan listrik saat pemadaman listrik di kawasan Sabang, Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana potong gaji karyawan PT PLN (Persero)  untik ikut menanggung beban perseroan pasca pemadaman listrik di 3 provinsi Ahad lalu dinilai bisa menjadi sentimen negatif bagi investor.

    "Tentu ini akan membuat sentimen negatif yang harusnya tidak terjadi kepada pasar bahwa ada ketidakberesan dalam pengelolaan. Ini harapannya jangan tersebar luas beritanya," kata Ekonom Insitute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu, 7 Agustus 2019. Menurut dia, semestinya perkara dapur perusahaan bisa diselesaikan oleh internal perseroan.

    Rencana potong gaji itu juga menambah buruk kabar yang sampai ke telinga investor. Pemadaman listrik di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten saja, kata Heri adalah berita besar bagi penanam modal. "Bahwa kok Indonesia mengalami byarpet besar-besaran dan banyak industri yang dirugikan. Tentu mereka akan cerita ke temannya di negara lain bahwa di Indonesia sedang apes dan segala macam," ujar dia.

    Persoalan itu juga, ujar Heri, berpotensi mengurangi minat pemodal untuk masuk berinvestasi ke Tanah Air. Karena itu, ia merasa perlunya semua pihak mengembalikan citra buruk itu di mata konsumen. Sehingga para investor memiliki kesan baik soal berbisnis di Indonesia. "Semua harus memuaskan, termasuk untuk dunia usaha. Listrik ini faktor krusial untuk industri."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.