Sentimen Global, Rupiah Ditutup Negatif Akhir Pekan Ini

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar atau kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan ini ditutup masih berada dalam area negatif, terpengaruh sentimen global. Rupiah pada Jumat sore ditutup melemah 64 poin atau 0,45 persen menjadi Rp 14.180 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.116 per dolar AS.

    Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Jumat, mengatakan  sejumlah sentimen eksternal mulai dari risiko perang dagang hingga Brexit (pemisahan Inggris dari Uni Eropa) menjadi faktor pemicu depresiasi rupiah.

    Terkait perang dagang, ia mengemukakan, Presiden AS Donald Trump kembali memantik api dengan Cina melalui pernyataannya di Twitter, yang mengancam bakal menerapkan bea masuk 10 persen bagi impor produk-produk Cina senilai 300 miliar dolar AS.

    "Sejauh ini belum ada respons dari Beijing mengenai rencana Trump tersebut. Namun sangat mungkin Cina akan murka dan melancarkan serangan balasan dengan balik mengenakan bea masuk terhadap produk-produk AS," katanya.

    Selain itu, lanjut dia, friksi dagang Jepang dan Korea Selatan memasuki babak baru. Jepang menghapus Korea Selatan dari daftar negara penerima kemudahan (whitelist) perdagangan.

    "Penghapusan Korea Selatan dari whitelist  akan membuat produk Negeri Ginseng itu lebih sulit masuk ke Jepang karena berbagai fasilitas akan dihapus. Korea Selatan menjadi negara pertama yang dihapus dari daftar yang berisi 27 negara seperti Jerman, Inggris, dan AS," paparnya.

    Jepang, lanjut dia, beralasan Korsel gagal mengendalikan ekspornya dan pembicaraan selama tiga tahun seakan jalan di tempat.

    Selain itu, ada penurunan kepercayaan karena pengadilan Korsel memutuskan sejumlah perusahaan Jepang wajib membayar kompensasi atas kerja paksa pada masa Perang Dunia II.

    Terkait Brexit, Ibrahim mengatakan Inggris menyiapkan anggaran 2,1 miliar poundsterling untuk berjaga-jaga jika terjadi "No Deal Brexit". "Anggaran itu akan dipakai untuk memfasilitasi dunia usaha, mempermudah arus keluar-masuk barang di pabean, sampai menjaga pasokan obat-obatan bagi Inggris," katanya.

    Kendati demikian, Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah relatif tertahan menyusul intervensi Bank Indonesia ke pasar valas dan obligasi. "BI melakukan intervensi melalui transaksi di pasar spot yaitu DNDF (domestic non deliverable forward) dan obligasi. Walau masih tertekan, setidaknya pemerintah sudah berusaha menahan laju pelemahan mata uang rupiah lebih dalam," katanya.

    Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp 14.203 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.098 per dolar AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.