Minyak Tumpah di Karawang, Pertamina: Sampai Tuntas Kami Tangani

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta -Pertamina (Persero) menyiapkan rencana jangka panjang penanganan kebocoran sumur YYA-1 di Blok Offshore North West Java yang dikelola anak perusahaan, PT Pertamina Hulu Energi. Perusahaan tak membatasi anggaran untuk menangani masalah ini. "Kami siap berapa pun biayanya dan akan melakukan pemulihan hingga tuntas," kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, kepada Tempo, Kamis, 1 Agustus 2019.

    Nicke mengatakan penanganan tahap awal dilakukan dengan mengurangi tumpahan minyak. Perusahaan akan memasang static oil boom hingga melingkari anjungan. Saat ini baru lima alat yang dipasang dan menutupi area seluas 2.450 meter persegi di sekitar anjungan. Pemasangannya diutamakan di arah aliran minyak menuju pesisir terlebih dulu lantaran pasokan oil boom yang terbatas.

    Pada awal penemuan tumpahan, perusahaan memanfaatkan dynamic oil boom yang ditarik menggunakan kapal untuk menahan minyak. Pasalnya, saat itu arah aliran minyak belum stabil. Saat ini dynamic oil boom digunakan untuk memburu tumpahan minyak yang lolos dari static oil boom dan mengalir jauh dari anjungan.

    Nicke mengatakan ada dua dynamic oil boom yang bersiaga. Perusahaan juga menyiagakan tiga alat penyedot minyak dan 39 kapal penampung minyak, patrol, dan pemadam kebakaran. Untuk minyak yang telanjur sampai di pesisir, Pertamina mengerahkan bantuan masyarakat yang terkena dampak, salah satunya nelayan yang tidak bisa melaut. Mereka diberi kompensasi Rp 500 ribu per hari untuk mengangkut pasir. Pasir tersebut akan dibawa ke pengolahan limbah di Karawang.

    Direktur Hulu PT Pertamina, Dharmawan H. Samsu, mengklaim tumpahan minyak di perairan Karawang saat ini mulai berkurang. Volume luapan minyak di permukaan kini tersisa 10 persen dari volume tumpahan di awal yang mencapai 3.000 barel per hari. Angka itu dihitung dari jumlah minyak yang diangkat dari kurungan oil boom di lautan. "Ternyata keadaan reservoirnya cepat mengecil sehingga rate-nya yang tersisa itu," katanya. Tapi Pertamina tetap waspada lantaran masih ada potensi perubahan tekanan semburan yang mempengaruhi volume minyak yang keluar.

    Sembari menyedot genangan minyak, Pertamina bersiap menutup sumur YYA-1. Dharmawan menuturkan, sumur akan ditutup dengan menginjeksi semen melalui menara pengeboran atau rig yang dipasang di dekat anjungan YYA-1. Proses penutupan sumur diperkirakan berlangsung delapan pekan. Pertamina menggandeng Boot and Coots, perusahaan asal Houston, Amerika Serikat, untuk membantu proses tersebut. Perusahaan itu sudah berpengalaman menyelesaikan tumpahan minyak, salah satunya di Teluk Meksiko.

    Dalam rencana jangka panjang Pertamina, tahap awal akan berakhir pada Agustus 2019. Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi, Meidawati, mengatakan Pertamina kemudian memasuki tahap pemulihan hingga November 2019. Tahapan ini meliputi kegiatan, seperti rehabilitasi area terkena dampak, penataan dan pembangunan area umum, serta revitalisasi lingkungan.

    Untuk tahap selanjutnya, Pertamina akan menggelar program corporate social responsibility berbasis lingkungan. Rencananya, perusahaan akan merevitalisasi Pantai Sedari, Pantai Pelangi, dan Cemara Jaya yang sekarang terkena dampak tumpahan minyak. Program ini akan terus dipantau perkembangannya.

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengingatkan Pertamina untuk berkomitmen menangani dampak tumpahan minyak. Menurut dia, perbaikan lingkungan membutuhkan waktu panjang. Dia juga meminta Pertamina untuk menanggung kerugian yang dialami masyarakat, seperti nelayan dan petambak. Susi berjanji akan mengawasi kinerja perusahaan pelat merah itu. "Kami tidak akan tinggalkan ini sebelum kelar. Kami juga akan tagih ke Pertamina,” kata Susi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.