Perang Dagang Berlanjut, Sri Mulyani: Ekonomi Dunia Melemah

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat berbicara dalam Orasi llmiah pada Dies Natalis ke 38 Universitas Negeri PGRI Semarang, Rabu, 23 Juli 2019 (sumber: IG @smindrawati).

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat berbicara dalam Orasi llmiah pada Dies Natalis ke 38 Universitas Negeri PGRI Semarang, Rabu, 23 Juli 2019 (sumber: IG @smindrawati).

    TEMPO.CO, Jakarta - Perang dagang Amerika Serikat dan Cina diperkirakan terus  berlanjut menyusul kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan bea masuk 10 persen terhadap produk impor China mulai 1 September mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perang dagang yang belum dapat diprediksi kapan akan berakhir ini telah membuat ekonomi dunia melemah  0,5 persen.

    "Sudah masuk perhitungan pelemahan ekonomi tahun ini, di mana perekonomian dunia akan turun sampai 0,5 persen sendiri," kata Sri Mulyani saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Sri Mulyani menjelaskan perang dagang AS-Cina sudah berdampak ke banyak negara. Karena itu, sejumlah negara telah melakukan penyesuaian kebijakan perekonomian, terutama pada sektor ekspor dan impor.

    "Indonesia sendiri melihat tekanan terhadap perdagangan internasional juga sudah terlihat kinerja ekspor kita," ungkap Sri Mulyani.

    Untuk Indonesia, selain dari faktor eksternal, Menteri Keuangan juga akan tetap berfokus pada faktor domestik untuk pelemahan ekonomi ini. "Kita terus waspada kemungkinan perang dagang yang sudah terasa selama satu tahun ini," ucap dia.

    Sebelumnya, Presiden Trump  menyampaikan pemberlakuan 10 persen bea masuk produk Cina ke Amerika melalui akun Twitternya @realDonaldTrump. "Barang-barang dan produk dari Cina yang masuk ke negara kita dengan nilai US$ 300 miliar," kata dia.

    Trump juga mengkritik Cina karena dianggap tidak menepati janji untuk membeli lebih banyak produk-produk pertanian AS. Tak hanya itu, Trump menyerang Presiden Cina, Xi Jinping, yang dinilai gagal berbuat banyak untuk meredam penjualan zat sintetik fentanyl.

    Bea masuk 10 persen yang diumumkan Trump dan akan diberlakukan mulai 1 September 2019. Bea masuk baru ini belum termasuk tarif impor yang sudah diberlakukan terhadap produk Cina senilai US$ 250 miliar.

    Keputusan Trump ini diperkirakan bakal mempertajam perang dagang antara AS dan Cina serta bakal mempengaruhi harga beragam barang, mulai dari ponsel pintar sampai pakaian anak-anak.

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?