BI Beri Sinyal Ikuti The Fed Turunkan Suku Bunga Acuan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Bank Indonesia menghitung dan memeriksa uang Rupiah tidak layak edar dari berbagai pecahan yang ditukarkan oleh masyarakat di loket Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, 26 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas Bank Indonesia menghitung dan memeriksa uang Rupiah tidak layak edar dari berbagai pecahan yang ditukarkan oleh masyarakat di loket Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, 26 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI memberi sinyal akan kembali melakukan pelonggaran kebijakan moneter yang akomodatif lagi tahun ini setelah penurunan suku bunga bulan lalu. 

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko menyatakan masih ada potensi pelonggaran kebijakan moneter seiring dengan penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).

    "Bank Indonesia memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi lebih lanjut," kata Onny, Kamis, 1 Agustus 2019.

    Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2019 lalu, BI telah menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 5 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50 persen.

    Kebijakan tersebut ditempuh sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas eksternal yang terkendali.

    Pasalnya strategi operasi moneter tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang dan memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif. Kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. Kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi. 

    Seperti diketahui, The Fed baru saja mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan untuk pertama kali sejak 2008. Adapun Gubernur The Fed, Jerome Powell sebagai strategi yang dirancang untuk mengantisipasi risiko penurunan.

    Dalam kesempatan konferensi pers setelah pertemuan anggota FOMC berakhir, Powell mengatakan bahwa kebijakan ini pada dasarnya dianggap sebagai langkah yang normal di tengah penyesuaian.

    "Ini bukan awal dari serangkaian pemotongan (suku bunga), tetapi saya tidak mengatakan akan hanya ada satu penurunan (suku bunga)," kata Powell, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis, 1 Agustus 2019.

    Para bankir bank sentral sepakat, terkecuali dua pejabat yang berbeda pendapat, untuk menurunkan kisaran batas suku bunga acuan sebesar seperempat poin menjadi 2-2,25 persen.

    Perubahan ini juga sudah diantisipasi oleh hampir seluruh investor dan ekonom, namun tampaknya kebijakan The Fed belum memuaskan Trump yang menginginkan potongan suku bunga yang lebih besar.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.