Dorong Efisiensi, Pegadaian Tutup Lebih dari 100 Kantor Cabang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon pembeli tengah memilih perhiasan emas yang dijual secara dilelang di Kantor Pusat Pegadaian, Jakarta, 6 Oktober 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Calon pembeli tengah memilih perhiasan emas yang dijual secara dilelang di Kantor Pusat Pegadaian, Jakarta, 6 Oktober 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto menyatakan pihaknya telah menutup lebih dari 100 kantor cabang seiring dengan pengembangan digitalisasi. Penutupan tersebut dalam rangka efisiensi seiring dengan agresifnya perusahaan pelat merah ini memasarkan produk digital.

    Saat ini Pegadaian memiliki lebih dari 4.300 kantor cabang yang tersebar di Nusantara. Namun, Kuswiyoto mengaku perusahaan berusia 118 tahun ini tetap membutuhkan kantor cabang fisik, lantaran masih banyak nasabahnya yang melakukan gadai di outlet. “Kami masih perlu (kantor cabang)."

    Kuswiyoto menjelaskan, dengan adanya digitalisasi, Pegadaian akan menutup banyak kantor cabang. "Bukan dalam artian rugi, tapi untuk efisiensi. Dari 4.300-an, sekarang turun 100-an. Kami pelan-pelan kurangi. Kalau tutup semua tidak mungkin,” katanya belum lama ini.

    Ke depannya, Pegadaian akan fokus untuk terus menambah agen dan sales force. Saat ini Pegadaian didukung oleh lebih dari 8.200 agen dan 2.200 sales force. Perluasan distribution channel di samping untuk meningkatkan sales perusahaan, juga membawa dampak economic sharing dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

    Pegadaian juga berencana menambah cabang di tempat-tempat tertentu yakni yang benar-benar luar biasa sekali yang memerlukannya. "Kami lebih banyak mengembangkan agen. Kami punya 8.000 agen. Kalau kami kerja sama dengan Himbara akan sangat-sangat cukup,” kata Kuswiyoto.

    Selama semester pertama tahun 2019 ini, Pegadaian membukukan laba bersih Rp 1,53 triliun. Angka tersebut meningkat 11,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2018 senilai Rp 1,37 triliun.

    Kuswiyoto menyampaikan kenaikan laba itu mengerek aset perusahaan menjadi Rp5 6,09 triliun, tumbuh 6,25 persen dibandingkan tahun lalu Rp 52,79 triliun. Nilai outstanding loan yang dicapai sepanjang Januari – Juni 2019 mencapai Rp 43,6 triliun atau naik 12,66 persen dibandingkan semester pertama tahun 2018 sebesar Rp 38,7 triliun.

    Hingga saat ini pendapatan terbesar berasal dari produk pembiayaan jasa gadai. Komposisi bisnis gadai dan non gadai mencapai 85:15. Saat ini total jumlah nasabah Pegadaian mencapai 12,1 juta nasabah.

    “Tentu kami bersyukur dan berterima kasih khususnya kepada para nasabah yang terus setia memanfaatkan produk dan layanan Pegadaian. Kami juga terus berkomitmen untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan melalui program digitalisasi yang terus dikembangkan,” ujar Kuswiyoto seperti dikutip dari siaran pers, Kamis, 1 Agustus 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.