Harga Cabai di Lombok Melambung jadi Rp 80 Ribu per Kilogram

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cabai merah. TEMPO/Prima Mulia

    Ilustrasi cabai merah. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Mataram -Harga cabai di pasar-pasar se-Kota Mataram melambung hingga mencapai Rp 80 ribu per kilogram. Di tingkat petani, harga berkisar Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu. Padahal Nusa Tenggara Barat atau NTB adalah sentra cabai terutama dari Kabupaten Lombok Timur.

    Penyebabnya adalah anjloknya jumlah petani yang menanam karena beralih ke tanaman lainnya. Selain itu, NTB juga penyuplai pasar Jakarta.

    Kepala Dinas Perdagangan atau Disdag NTB Selly Andayani menjelaskan keyakinannya pada musim panen Agustus 2019 harganya akan kembali normal hingga Rp 20 ribu perkilogramnya. ''Jika memasuki musim panen optimis akan normal,'' katanya di sela Pasar Murah yang diselenggarakan di Pasar Karang Sraya Kecamatan Cakranegara Mataram.

    Untuk mengantisipasi adanya kenaikan harga, Selly Andayani menjelaskan Disdag NTB tetap melakukan pemantauan pasar dan pasar murah, khususnya saat hari besar keagamaan nasional. Hari ini, harga rata-rata dari pantauan tiga pasar besar di Mataram yaitu Pasar Kebon Roek Ampenan, Pasar Pagesangan dan Pasar Mandalika Bertais adalah cabai merah besar Rp 41.667 dan cabai keriting Rp 60 ribu per kilogramnya. Sedangkan cabai rawit merah harga rata-ratanya Rp 71.667 perkilogramnya dan cabai rawit hijau Rp 33.333.  

    Pasar murah yang diselenggarakan di lingkungan komunitas etnis Bali ini menjelang Hari Raya Kuningan. Ia berada di sana bersama Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Perdagangan Jasa Lasminingsih. Pasar murah tidak hanya digelar di Lombok, namun hingga Sumbawa. Harga sembako dan lainnya dijual murah, seperti minyak Rp 10.900 atau beras Rp 8300 per kilogram.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.