Fresh Graduate yang Baru Kerja Disarankan Beli Rumah Saat Ini

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menabung untuk memiliki rumah (Pixabay.com)

    Ilustrasi menabung untuk memiliki rumah (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan mengatakan saat ini adalah kondisi termudah bagi konsumen yang ingin membeli rumah, tak terkecuali bagi fresh graduate yang baru mulai bekerja. Sebab, ada peluncuran kebijakan pemerintah yang memudahkan kepemilikan rumah sehingga menjadi lebih fleksibel.

    "Ketika fresh graduate baru memulai bekerja, ada baiknya untuk mulai memikirkan untuk membeli rumah. Karena di masa muda, ketika masih lajang atau belum punya anak, beban keuangan belum terlalu besar," ujarnya melalui siaran pers, Minggu, 28 Juli 2019.

    Berbeda halnya ketika pekerja sudah menikah serta telah memiliki anak yang dipastikan kebutuhan finansial akan semakin besar.

    Ike menuturkan jika ditambah dengan biaya cicilan rumah, beban finansial akan semakin besar sehingga kebutuhan membeli rumah akhirnya dikorbankan dan mengandalkan tinggal bersama di rumah orang tua.

    Berdasarkan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2019, generasi muda memiliki minat paling besar untuk membeli properti.

    Generasi muda dengan usia 21 tahun hingga 29 tahun dengan latar belakang para fresh graduate yang baru mulai bekerja memiliki minat tertinggi dalam membeli properti yakni sebanyak 71 persen. Sementara itu, responden pada kelompok usia 30 tahun—39 tahun menempati posisi kedua dengan persentase sebesar 60 persen.

    Adapun, generasi muda yang berusia di atas 39 tahun memiliki minat yang lebih rendah yakni sebanyak 59 persen, di atas 50 tahun sebanyak 58 persen, serta di atas 60 tahun sebanyak 40 persen.

    Ike menuturkan bahwa cara membeli rumah dengan gaji Rp8 juta sangat mudah dengan memanfaatkan program pemerintah melalui LTV, cicilan KPR dengan momen saat ini yang memiliki bunga yang lebih rendah sehingga cicilan lebih terjangkau, serta menggunakan program pemerintah lainnya.

    Ike menuturkan selama ini, kendala utama untuk membeli rumah adalah  uang muka atau down payment (DP) yang terlalu besar, bahkan dengan gaji yang belum tentu mencapai DP yang ditentukan.

    Dengan aturan loan to deposit ratio (LTV) yang memudahkan para pembeli rumah pertama, lanjut Ike, serta adanya penurunan bunga acuan BI7RR yang telah diturunkan oleh Bank Indonesia, kendala-kendala tersebut sudah seharusnya teratasi.

    LTV ratio adalah rasio yang digunakan oleh bank konvensional untuk mengukur sebesar apa pinjaman yang bisa diberikan kepada nasabah, dalam hal ini berkaitan dengan kredit properti.

    Sementara itu, jika mengacu pada hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019, jenis pembiayaan yang dipilih berdasarkan usia, peminat cicilan syariah paling banyak dari kalangan berusia di bawah 40 tahun atau generasi milenial.

    Sebanyak 52 persen milenial muda dan 50 persen milenial tua memilih menggunakan KPR syariah dalam proses pembelian rumahnya, sedangkan responden yang berusia 40 hingga 49 tahun hanya 36 persen dari mereka yang memilih KPR Syariah dan 50 persen responden usia 50 hingga 59 tahun memilih KPR Syariah.

    Menurut Ike, generasi Z dan milenial memang paling bersemangat membeli properti seperti rumah, tetapi mereka masih memiliki pengalaman dan informasi yang minim. Pengembang dapat memberi bantuan informasi hingga pengurusan pengajuan KPR. Sesuaikan strategi pemasaran dengan karakter milenial yang dinamis, technology-minded, dan menyukai desain yang unik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.