PLN Siap Pangkas Konsumsi Batu Bara Hingga 50 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa pasokan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap Palabuhan Ratu, Sukabumi, 5 April 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja memeriksa pasokan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap Palabuhan Ratu, Sukabumi, 5 April 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero)  bersiap untuk mengurangi penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrknya hingga 50 persen. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan sektor kelistrikan nasional pada energi fosil.

    "Memang terus terang (sumber energi terbesar) ada dari batu bara yang mulai kita reduce terus sampai nanti 2023, harus 50 persen batu bara," kata pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PLN Djoko Abumanan di Jakarta, Ahad 28 Juli 2019.

    Pada 2018, angka penyerapan batu bara domestik tercatat mencapai 115 juta ton dengan konsumsi sektor kelistrikan sebesar 91 juta ton. Tingginya konsumsi batu bara tersebut akibat bertambahnya pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang telah selesai dibangun PLN dan beberapa perusahaan listrik swasta.

    "(PLTU) yang baru sudah tidak lagi, tapi yang lama kami tunggu umur kontrak sampai 25 tahun. Inilah yang kami lakukan transformasi dari energi fosil ke energi terbarukan," ujar Djoko.

    Djoko menerangkan, energi baru terbarukan (EBT) atau renewable energy di Indonesia saat ini masih mencapai 13 persen dari total bauran energi nasional. Adapun pemerintah Indonesia menargetkan EBT sebesar 23 persen pada tahun 2023, yang sebelumnya telah disepakati dalam Perjanjian Paris dan akan meningkat menjadi 31 persen pada tahun 2050.

    Upaya untuk mencapai target itu dilakukan dengan membangun tambahan pembangkit EBT sebesar 2.000 megawatt per tahun, salah satunya dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap. "Untuk mencapai target satu juta PLTS itu, PLN bergeraknya di luar Jawa," jelas Djoko.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.