Investor Asing Diberikan 3 Opsi Jika Ingin Garap Proyek Jalan Tol

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu atau Becakayu di kawasan Jalan K.H. Noer Ali, Bekasi Selatan, Ahad, 30 Juni 2019. Pembangunan ruas Tol Becakayu seksi 2A ditargetkan rampung pada Agustus 2019. TEMPO/Subekti.

    Pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu atau Becakayu di kawasan Jalan K.H. Noer Ali, Bekasi Selatan, Ahad, 30 Juni 2019. Pembangunan ruas Tol Becakayu seksi 2A ditargetkan rampung pada Agustus 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam ajang The 2nd Indonesia Investment Day (IID) di Singapura, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memaparkan peluang investasi jalan tol yang bisa digarap investor asing. Kepala BPJT Danang Parikesit mengatakan, masih banyak investor asing yang takut mengambil risiko investasi berbasis proyek seperti pada proyek jalan tol

    "Singapura  kerap dijadikan referensi dari berbagai perwakilan perusahaan multinasional yang akan mengembangkan usaha di Kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia," ujarnya melalui siaran pers Sabtu 27 Juli 2019.

    Danang menerangan, calon investor mempunyai tiga pilihan skema yang bisa dipertimbangkan untuk memulai berinvestasi di bisnis jalan tol.

    Pertama, calon investor bisa masuk melalui pasar modal yang mana perusahaan tol sudah menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia. Saat ini sedikitnya ada dua perusahaan jalan tol dikendalikan oleh investor asing, yaitu PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) dan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP).

    Berdasarkan laporan META ke BEI, per 10 Juli 2019, pemegang saham pengendali META adalah PT Metro Pacific Tollways Indonesia (MPTI) dengan porsi saham 74,24 persen. MPTI adalah anak usaha perusahaan tol terbesar di Filipina, Metro Pacific Tollways Corporation. Sementara pemegang saham terbesar CMNP adalah BP2S/SG BNP Paribas Wealth Management Singapore Branch.

    Kedua, investor juga bisa bergabung ke dalam konsorsium badan usaha jalan tol. Danang menyebutkan bahwa pihaknya bisa memfasilitasi investor yang tertarik menanamkan yang lewat skema ini.

    "Tentu saja hal ini aman bagi investor asing mengingat BUJT [badan usaha jalan tol] memahami betul proses bisnis jalan tol sehingga mengurangi risiko yang harus dihadapi oleh investor asing,” kata dia.

    Dari 33 perusahaan jalan tol yang ada di Indonesia, sedikitnya ada tiga investor asing yang sudah terlibat. Investor asal Malaysia, CMS Works International Limited sudah berpartisipasi di PT Jasamarga Cengkareng Kunciran dengan porsi saham sebanyak 21 persen. Di ruas Tangerang—Merak, Capital Holding Investment Limited memegang 15,69 persen saham PT Marga Mandalasakti. Adapun, perusahaan investasi CapAsia menguasai 25 persen saham PT Margautama Nusantara (MUN). MUN merupakan subholding bisnis jalan tol META dengan portofolio empat ruas jalan tol.

    Opsi ketiga yang bisa ditempuh calon investor, kata Danang, yakni penyertaan langsung dengan menjadi pimpinan konsorsium. Skema ini merupakan yang paling sarat risiko dibandingkan dengan dua opsi lain. “Sudah ada beberapa perusahaan asing yang melakukan hal ini, biasanya adalah perusahaan yang awalnya memang bergerak di bisnis jalan tol” kata dia.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.