Menteri Rini Soemarno Minta Freeport Segera Bangun Smelter

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN RIni Soemarno menyaksikan Tunnel Walini yang berhasil ditembus saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Selasa, 14 Mei 2019. Proyek ini mencapai babak baru setelah Tunnel Walini berhasil ditembus yang pengerjaannya. ANTARA/M Agung Rajasa

    Menteri BUMN RIni Soemarno menyaksikan Tunnel Walini yang berhasil ditembus saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Selasa, 14 Mei 2019. Proyek ini mencapai babak baru setelah Tunnel Walini berhasil ditembus yang pengerjaannya. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Mimika - Menteri BUMN Rini Soemarno meminta PT Freeport Indonesia segera membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di dekat lokasi pertambangan. Dengan begitu, roda-roda kegiatan ekonomi masyarakat di dekat lokasi tambang dapat terus bergerak.

    “Ini merupakan program Presiden Joko Widodo, bagaimana masyarakat di desa dan dekat lokasi tambang itu bisa mendapatkan benefit sebesar-besarnya dari pertumbuhan ekonomi," katanya saat berkunjung ke tambang Grasberg, Mimika, Papua, Ahad 28 Juli 2019.

    Saat ini, sudah 94 persen dari pendapatan asli daerah di Mimika berasal dari tambang emas dan tembaga tersebut. Rini berharap kontribusi pengelolaan tambang di Freeport dapat meluas bagi masyarakat Papua.

    Adapun secara nasional, menurut data perusahaan, nilai kontribusi Freeport mencapai 2,2 miliar dolar AS dalam bentuk pajak, royalti, dividen dan pembayaran lainnya.

    "Pengelolaan tambang ini mampu meningkatkan dan mampu mendorong ekonomi nasional, khususnya Provinsi Papua. Itu tanggung jawab bersama Freeport dan PT Inalum. Jadi kita sudah harus meningkatkan program-program untuk masyarakat. Sehingga masyarakat Mimika dan sekitar tambang bisa menjadi mandiri jika sudah tidak ada Freeport lagi,” ujar Rini.

    Menurut Rini, tambang emas dan tembaga Freeport ini merupakan salah satu aset terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia. Aset yang dimiliki Indonesia bukan hanya dilihat dari keuntungan dan nilai material. Tetapi juga, dilihat dari cara BUMN atau negara mengelola tambang emas Freeport ini. Untuk itu, para pekerja Indonesia harus bisa menguasai ilmu-ilmu dalam pengelolaan tambang emas secara modern.

    "Sehingga ke depan kita harapkan kalau nanti kita harus membuka tambang-tambang yang baru, yang punya kesulitan seperti Grasberg ini, kita sudah dapat melakukannya sendiri," Rini menambahkan. 

    Rini mengingatkan pemberdayaan masyarakat di wilayah pertambangan menjadi tugas berat bersama antara pemerintah dan perusahaan pengelola tambang.
    Menurut dia, banyak daerah-daerah yang justru tidak berkembang, setelah industri pertambangan di sana tidak lagi beroperasi.

    Seperti diketahui, per akhir 2018, Indonesia secara sah memiliki 51 persen saham Freeport setelah BUMN PT Indonesia Asahan Analum (Inalum) menyepakati persetujuan penjualan dan pembelian (Sales Purchase Agreement/SPA) dengan Freeport Mcmoran Inc dan Rio Tinto. Saat ini, menurut data PT FI, kepemilikan PT FI adalah 26,24 persen milik PT Inalum, 25 persen PT Indonesia Papua Metal dan Mineral (IPMM) dan 48,76 persen Freeport McMoran Inc.

    ANTARA


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.