Tak Hanya Nama Kampus, Ini Pertimbangan HRD Terima Fresh Graduate

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita mencari lowongan kerja. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita mencari lowongan kerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -  Divisi sumber daya manusia atau SDM atau Human Resources Department umumnya mempertimbangkan banyak hal untuk memilih calon kandidat pekerja lulusan anyar atau fresh graduate. Chairman sekaligus founder komunitas praktisi SDM Future HR, Audi Lumbantotuan, mengatakan perusahaan biasanya menimbang seberapa siap pelamar beradaptasi dalam lingkungan kerja.

    “Perusahaan melihat seberapa cepat kandidat siap kerja. Perusahaan umumnya kepingin mencari kandidat yang secepat mungkin bisa langsung adaptasi,” ujar Audi kala dihubungi pada Sabtu, 27 Juli 2019.

    Menurut Audi, untuk menggelar program rekrutmen, perusahan mesti menganggarkan biaya tambahan. Selain itu, perusahaan bakal menyediakan waktu khusus untuk mengajari karyawan lulusan anyarnya cara bekerja dan mengenal lingkungan. Karena itu, perusahaan bakal menyaring  kandidat yang cepat menguasai pekerjaan dan mumpuni.

    Dalam proses seleksi, kandidat yang pernah terlibat aktif dalam organisasi akan memperoleh poin tambah. Sebab, dengan latar belakang tersebut, kandidat diduga telah memiliki kemampuan komunikasi dan bekerja tim. Selain itu, pengalaman pernah bekerja paruh waktu turut menjadi pertimbangan positif.

    Audi mengatakan, HRD umumnya tak akan terlampau mempertimbangkan indeks prestasi kumulatif atau IPK kandidat untuk seleksi tahap akhir. “Saya harus jujur bahwa IPK itu kadang hanya dipakai sebagai faktor seleksi administrasi,” ujarnya.

    Seleksi dokumen melalui IPK umumnya merupakan cara efektif untuk memilih kandidat yang bakal  lolos ke tahap selanjutnya dengan cepat. Karena itu, ia mengatakan IPK bukan jaminan. Tak sampai di situ, universitas pun kerap bukan menjadi pertimbangan diterima atau tidaknya kandidat oleh perusahaan.

    Pertimbangan universitas atau latar belakang sekolah biasanya hanya diterapkan untuk profesi khusus, semisal pelayaran atau kantor perpajakan yang acap menyerok kandidat dari lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara atau STAN.

    Adapun dalam proses rekrutmen, kandidat lulusan anyar disilakan untuk negosiasi gaji. Di Indonesia, untuk mayoritas sektor, ia mengungkapkan gaji yang ditawarkan rata-rata Rp 5 hingga 10 juta.

    Sebelumnya, viral kabar seorang lulusan sarjana satu atau S-1 perguruan tinggi negeri menolak gaji Rp 8 juta. Ia menolak lantaran besaran gaji itu dianggap tak sepadan dengan nama besar universitasnya.  Kabar soal penolakan gaji Rp 8 juta itu sempat menjadi trending topik di Twitter. Tagar terkait topik ini muncul seusai sebuah tangkapan layar instastory seseorang yang mengaku fresh graduate lulusan Universitas Indonesia beredar. 

    Lulusan anyar itu menyebutkan baru saja menjalani wawancara kerja di sebuah perusahaan lokal yang menawarinya gaji Rp 8 juta. Dalam Instastory itu, penulis mengklaim sebagai lulusan UI, yang semestinya tidak hanya digaji Rp 8 juta. 

    Juru bicara Universitas Indonesia, Egia Etha Tarigan, sebelumnya mengatakan identitas dari pemilik status Instagram yang membuat heboh itu masih belum diketahui. Namun, ia berpendapat, bila penulis Instastory yang menolak gaji Rp 8 juta itu benar alumni UI, ia menganggap sikap tersebut tidak bijaksana. 

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.