Garuda Tanggapi Saham Melorot Usai Sajikan Ulang Laporan Keuangan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen PT Garuda Indonesia Persero Tbk merespons melorotnya saham perseroan setelah melakukan restatement atau penyajian kembali laporan keuangan tahun 2018. Vice President Corperate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan mengatakan perusahaan optimistis iklim investasi masih akan bergerak positif hingga akhir tahun 2019.

    "Investor oke-oke saja kan. Kita pikir itu (saham) akan naik lagi," ujar Ikhsan kala ditemui di kantornya, kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Jumat, 26 Juli 2019.

    Dalam penutupan perdagangan Jumat, saham perusahaan yang terdaftar dengan emiten GIAA itu melorot 6 poin atau sekitar 1,52 persen. Saham GIAA berada di zona merah dengan penjualan Rp 396 per lembar saham setelah sempat dibuka dengan zona hijau di level Rp 398.

    Saham Garuda sempat berada di level terendah di Rp 388. Adapun total frekuensi perdagangan 1.032 kali dengan volume Rp 7,68 miliar.

    Ikhsan menyatakan perseroan optomistis saham akan naik seiring dengan kondisi bisnis maskapai yang membaik. Ia menjelaskan, pada kuartal pertama 2019, perusahaan mencatat untung US$ 19,7 juta. "Kalau dilihat kuartal kedua sampai akhir tahun optimis kita akan baik," ujarnya.

    Garuda sebelumnya merilis restatement atau penyajian laporan keuangan sesuai dengan rekomendasi Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Badan Pemeriksa Keuangan. Restatement ini sebagai buntut aksi Garuda membedaki laporan keuangannya untuk tahun 2018.

    Dalam laporan restatement-nya, perseroan mencatatkan rugi mencapai US$ 175,02 triliun. Padahal sebelumnya, Garuda Indonesia menyatakan untung US$ 5,01 juta. Garuda Indonesia juga mengalami sejumlah penyesuaian pada indikator aset menjadi sebesar US$ 4.328 juta dari sebelumnya US$ 4.532 juta.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.