Langkah Sri Mulyani Usai IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) menyapa Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde ketika menghadiri Host Country Reception dalam Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Garuda Wisnu Kencana, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/Zabur Karuru

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) menyapa Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde ketika menghadiri Host Country Reception dalam Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Garuda Wisnu Kencana, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap kinerja faktor domestik Indonesia berkontribusi lebih positif pada semester kedua 2019 ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau semester pertama tahun ini. Pernyataan ini disampaikan merespon pemangkasan proyeksi pertumbuhan global baru-baru ini oleh Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund atau IMF.

    Kinerja faktor domestik menjadi harapan pertumbuhan ekonomi karena adanya beberapa perbaikan. Di antaranya yaitu suku bunga acuan Bank Indonesia yang sudah mulai turun dan stabilitas politik yang mulai terjaga usai Pemilu Presiden 2019. “Jadi kita lihat saja momentumnya,“ kata Sri saat ditemui di Menara Astra, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Juli 2019. 

    Pemerintah, kata Sri, terus memantau faktor domestik tersebut seperti konsumsi dan pengeluaran pemerintah yang dinilai masih akan tumbuh positif.  Namun, tugas ada pada investasi yang harus dipacu lebih tinggi. Sebab, kata Sri, capaian yang ada menunjukkan sedikit pelemahan dari kuartal terakhir tahun 2018 lalu. Sepanjang semester pertama tahun ini, realisasi investasi juga hanya tumbuh hanya 5 persen, lebih rendah dari periode sama tahun lalu yang mencapai 7,4 persen.

    Kemarin, Rabu, 24 Juli 2019, IMF resmi mengumumkan pemangkasan proyeksi pertumbuhan global untuk tahun ini dan tahun 2020. Hal ini dilakukan di tengah risiko dari perang tarif antara Amerika Serikat dan Cina hingga kebuntuan Brexit yang dapat menghambat laju pertumbuhan, melemahkan investasi dan mengganggu alur rantai perdagangan.

    Lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2019 sebesar 3,2 persen atau turun dibanding prediksi per bulan April lalu di angka 3,3 persen. Pemangkasan proyeksi pertumbuhan juga dilakukan untuk tahun 2020 menjadi 3,5 persen atau melambat 0,1 persen dari prediksi per April lalu sebesar 3,6 persen.

    Penurunan proyeksi itu dilandasi atas kekhawatiran risiko terhadap ekonomi global yang telah meningkat. "Perdagangan akan pulih dan tumbuh pada kisaran 3,7 persen pada 2020, sekitar 0,2 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya," seperti dikutip dari keterangan IMF melalui Reuters, Rabu, 24 Juli 2019.

    Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan semua institusi akan mengeluarkan proyeksi berdasarkan model mereka masing-masing. Pemerintah, kata dia, tentu akan melihat seluruh hasil proyeksi yang disampaikan tersebut. Tapi di sisi lain, kebijakan mendorong kinerja faktor domestik tersebut terus didorong demi menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap berkualitas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.