Evaluasi Mudik Lebaran, DPR Soroti Mahalnya Tiket Pesawat

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi sejumlah dirjen di lingkungan Kementerian Perhubungan menghadiri rapat kerja Komisi V DPR di kompleks DPR/MPR Senayan, Senin, 18 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi sejumlah dirjen di lingkungan Kementerian Perhubungan menghadiri rapat kerja Komisi V DPR di kompleks DPR/MPR Senayan, Senin, 18 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat evaluasi penanganan arus mudik lebaran 2019 dan menyoroti soal mahalnya tiket pesawat. Rapat itu dihadiri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Korlantas, Kepala Basarnas, dan BMKG.

    Pimpinan rapat Fary Djemi Francis menyoroti soal mahalnya tarif penerbangan. "Catatan kami berkaitan dengan, kita tidak bisa mengesampingkan bahwa harga tiket pesawat udara masih sangat mahal bagi sebagian pemudik. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat membatalkan mudik lebaran 2019 atau memilih mudik dengan moda transportasi lain," kata Fary di Kompleks DPR, Jakarta, Rabu, 24 Juli 2019.

    Anggota komisi V Sukur Nababan mengatakan mahalnya tarif transportasi udara itu membuat kepadatan pada moda transportasi lain. "Karena moda transportasi udara yang membuat harga yang tidak bisa terjangkau pemunpang. Kita tidak bisa hanua bicara harga tarif batas bawah dan batas atas. Jangan sampai ini kartel," kata Sukur.

    Menurut dia, saat dulu maskapai penerbangan kita masih banyak, tarif pesawat bisa ditekan. Karena itu, untuk saat ini, dia menyarankan untuk para maskapai membuka struktur biaya dalam rapat khusus.

    "Sehingga masyarakat tahu apakan benar-benar seperti itu harganya. Jangan hanya karena bicara safety, harga jadi tidak terjangkau," ujarnya.

    Adapun Fary melanjutnya perkataannya, bahwa secara inti komisi V melihat penanganan penyelenggaraan mudik lebaran dari tahun ke tahun terus berjalan lebih baik.

    Komisi V juga memberikan beberapa catatan, seperti adanya beberapa insiden seperti KM Lintas Timur tenggelam di perairan Banggai kepulauan dan Taliabo. KM lintas timur mengangkut 3 ribu ton tenggelam di Banggai Kepulauan dan Taliabo 2 Juni 2019. Dalam kecelakaan itu, satu orang ditemukan selamat dari total 18 orang awak kapal, sisanya hilang dan kemungkinan meninggal dunia.

    "Lamanya waktu pencarian dan pertolongan, musibah ini patut jadi perhatian," ujarnya .

    Fary juga melihat ada kecelakaan beruntun di tol Talembalang KM 09 Semarang di jalur mengarah ke Jakarta saat contraflow, di mana 5 korban luka ringan. Selanjutnya, komisi V juga melihat masih terdapat kemacetan meski sistem satu arah atau one way di beberapa ruas tol telah diberlakukan. Hal itu perlu dievaluasi.

    Selain itu, fasilitas rest area di jalan tol masih perlu terus ditingkatkan, khususnya untuk mudik lebaran. Dan komisi V mencermati soal pemudik masih banyak yang tidak dapat tiket kereta api, bus, dan kapal laut karena tiket habis. "Ini menandakan masih kurangnya kapasitas angkutan umum yang harusnya bisa menjadi kemampuan tulang punggung pemudik," kata Fary.

    Baca berita tentang Tiket Pesawat lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.