IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global 2019 jadi 3,2 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • IMF www.egypttoday.com

    IMF www.egypttoday.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global untuk tahun ini dan tahun 2020. Hal ini dilakukan di tengah risiko dari perang tarif antara Amerika Serikat dan Cina hingga kebuntuan Brexit yang dapat menghambat laju pertumbuhan, melemahkan investasi dan mengganggu alur rantai perdagangan.

    Lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2019 sebesar 3,2 persen atau turun dibanding prediksi per bulan April lalu di angka 3,3 persen. Pemangkasan proyeksi pertumbuhan juga dilakukan untuk tahun 2020 menjadi 3,5 persen atau melambat 0,1 persen dari prediksi per April lalu sebesar 3,6 persen.

    Penurunan proyeksi itu dilandasi atas kekhawatiran risiko terhadap ekonomi global yang telah meningkat. "Perdagangan akan pulih dan tumbuh pada kisaran 3,7 persen pada 2020, sekitar 0,2 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya," seperti dikutip dari keterangan IMF melalui Reuters, Rabu, 24 Juli 2019.

    IMF memangkas perkiraan untuk pertumbuhan perdagangan global sebesar 0,9 persen menjadi 2,5 persen untuk 2019. Ini merupakan revisi proyeksi pertumbuhan keempat yang dilakukan oleh IMF.

    Keputusan memangkas proyeksi pertumbuhan itu juga didasari pada ketegangan pada perdagangan dan sektor teknologi serta meningkatnya tekanan disinflasi yang menimbulkan risiko pada masa depan. Data ekonomi serta pelemahan inflasi menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi lebih lemah dari yang diperkirakan.

    Data IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan volume perdagangan turun menjadi sekitar 0,5 persen pada kuartal pertama tahun ini dan merupakan laju pertumbuhan paling lambat sejak 2012. Perlambatan pertumbuhan terutama terjadi negara-negara Asia yang sedang berkembang. Adapun volume perdagangan global turun 2,3% antara Oktober 2018 hingga April 2019.

    Menurut perkiraan Biro Analisis Kebijakan Ekonomi Belanda (CPB), ini merupakan penurunan paling tajam sejak 2009 selama 6 bulan berturut-turut, ketika dunia berada di tengah-tengah resesi.

    Sementara Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath mengatakan bahwa ekonomi global sedang berada di persimpangan yang kompleks dan negara-negara harus menahan diri agar tidak menggunakan tarif sebagai alat untuk mengatasi ketidakseimbangan dagang atau sengketa internasional. Dia mengingatkan bahwa estimasi IMF di mana untuk tarif yang diberlakukan pada 2018 dan tarif baru yang ditetapkan pada Mei 2019 dapat mengurangi total output ekonomi dunia sebesar 0,5 persen pada 2020.

    Risiko signifikan lainnya termasuk perlambatan yang tidak terduga di China, rendahnya pemulihan di kawasan zona euro, kebuntuan Brexit hingga meningkatnya ketegangan geopolitik.

    "Kami tidak memprediksikan resesi dalam baseline kami, tetapi...ada beberapa risiko penurunan yang signifikan. Pemulihan ekonomi global akan sangat bergantung dengan perbaikan di negara emerging ekonomi dan negara berkembang, yang hingga saat ini masih terhambat ketidakpastian," ujar Gopinath.

    Laporan IMF juga menunjukkan bahwa pertumbuhan terlihat lebih baik dari yang diharapkan di ekonomi maju seperti Amerika Serikat, sedangkan faktor satu-satunya yang telah menghambat pertumbuhan di zona euro telah memudar, sesuai dengan yang diharapkan.

    Adapun IMF menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,6 persen pada 2019, sedangkan perkiraan untuk 2020 tak berubah sebesar 1,9 persen. Sementara perkiraan pertumbuhan untuk zona euro ikut terangkat menjadi 1,6 persen pada 2020, tetapi prospek pertumbuhan 2019 tidak berubah pada 1,3 persen.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.