Jawa Timur Mendominasi di Indonesia Attractiveness Award 2019

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pariwisata, Arief Yahya (tengah) bersama Direktur Utama Tempo Inti Media, Toriq Hadad (kanan) berfoto bersama dengan para penerima awarding di acara Indonesia's Attractiveness Award 2019 di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Menteri Pariwisata, Arief Yahya (tengah) bersama Direktur Utama Tempo Inti Media, Toriq Hadad (kanan) berfoto bersama dengan para penerima awarding di acara Indonesia's Attractiveness Award 2019 di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Tempo Inti Media Tbk. dan Frontier Group kembali menggelar ajang penghargaan Indonesia Attractiveness Award 2019. Pada tahun ini atau yang kelima sejak ajang digelar 2015, Provinsi Jawa Timur menyabet dua penghargaan tertinggi untuk kategori provinsi besar.

    Provinsi Jawa Timur mendapat penghargaan tertinggi atau platinum untuk bidang pelayanan publik dan pariwisata. Sedang bidang investasi dan infrastruktur diberikan masing-masing kepada Jawa Barat dan DKI Jakarta.

    Selain kategori provinsi besar, penghargaan di bidang yang sama juga diberikan untuk provinsi sedang dan kecil. Begitu juga untuk kota dan kabupaten dengan masing-masing pengelompokan yang sama. Total sebanyak 45 penghargaan yang dibagikan. 

    “Kami berharap penghargaan ini bisa memberi dorongan semangat kepala kepala daerah untuk melakukan pembangunan,” kata Direktur Utama Tempo Inti Media, Toriq Hadad, dalam penganugerahan penghargaan tersebut di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Juli 2019. 

    Toriq secara khusus memberi apresiasi kepada pemerintah daerah yang berhasil mempertahankan penghargaan yang diterima pada Indonesia Attractiveness Award 2018. Apresiasi juga diberikannya kepada pemerintah daerah yang baru pertama kali memperoleh penghargaan, di antaranya Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

    CEO Frontier Group, Handi Irawan, mengatakan pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia ditentukan oleh kemajuan dan daya tarik masing-masing daerah. “Beberapa daerah memiliki strategi yang sangat bagus, sehingga bisa dipelajari bagi daerah lain,” kata dia.

    Handi mengungkapkan, proses penghargaan telah melewati proses seleksi yang ketat. Dewan Juri terlebih dahulu membagi kriteria masing-masing daerah berdasarkan dua indikator, yaitu PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto). Sehingga, perbandingan antar daerah bisa dilakukan setara.

    “Jadi tidak mungkin membandingkan Jawa Timur yang besar, dengan Kalimantan Utara yang kecil dan masih baru,” kata dia. Berikut daftar daerah penerima penghargaan di kategori platinum,

    Provinsi 
    Besar: Jawa Timur untuk pelayanan publik dan pariwisata, lalu Jawa Barat untuk investasi, dan DKI Jakarta untuk infrastruktur. 
    Sedang: Sumatera Barat untuk pelayanan publik, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk pariwisata, Sulawesi Tengah untuk investasi dan Aceh untuk infrastruktur.
    Kecil: 
    Bengkulu untuk pelayanan publik, Sulawesi Utara untuk investasi, dan Kalimantan Utara untuk infrastruktur.

    Kota
    Besar: Pekanbaru (Riau) untuk pelayanan publik, Surabaya (Jawa Timur) untuk pariwisata dan infrastruktur, serta Denpasar (Bali) untuk pariwisata. 
    Sedang: Pontianak (Kalimantan Barat) untuk infrastruktur, Kota Jambi (Jambi) untuk pelayanan publik.
    Kecil: 
    Payakumbuh (Sumatera Barat) untuk pelayanan publik dan Batu (Jawa Timur) untuk pariwisata.

    Kabupaten
    Besar: Banyuwangi (Jawa Timur) untuk pariwisata dan infrastruktur,
    Sedang: Banggai untuk pelayanan publik dan Kabupaten Morowali investasi. Keduanya terdapat di Sulawesi Tengah.
    Kecil: 
    Bantaeng (Sulawesi Selatan) untuk pelayanan publik dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) untuk investasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.