Tenaga Kerja Indonesia Kalah dari Vietnam, Apa Sebab?

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (tengah) dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin 8 Juli 2019. Pada Sidang Kabinet Paripurna tersebut presiden mengajak para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan program kerja yang belum tuntas, menaikkan neraca perdagangan serta meningkatkan investasi. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (tengah) dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin 8 Juli 2019. Pada Sidang Kabinet Paripurna tersebut presiden mengajak para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan program kerja yang belum tuntas, menaikkan neraca perdagangan serta meningkatkan investasi. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama ini tenaga kerja Vietnam selalu dianggap lebih unggul dari Indonesia. Padahal, keunggulan tenaga kerja di Vietnam itu tidak terjadi begitu saja. 

    Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro mengungkapkan, pelatihan yang intensif dari pelaku usaha di Vietnam lah yang mendorong peningkatan kapasitas dan produktivitas tenaga kerja. Tak mengherankankan jika Vietnam makin unggul dari Indonesia di Asia Tenggara karena perhatian yang besar pelaku usaha pada tenaga kerja.

    "Perusahaan di Vietnam banyak yang memberikan pelatihan ke karyawannya dibandingkan dengan pelaku usaha di Indonesia," ungkap Bambang di Assembly Hall JCC, Senin 22 Juli 2019. 

    Oleh sebab itu, untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari Vietnam, upaya yang perlu dilakukan adalah memperkaya kapasitas SDM Indonesia. Dengan demikian, produktivitas dari SDM Indonesia bisa mendorong pertumbuhan ekonomi terbebas dari middle income trap.

    Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini menyatakan bahwa ada perbedaan antara gaya pemerintah Vietnam dan pemerintah Indonesia yang sangat fundamental. Utamanya yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan. "Peran pemerintah Vietnam juga sangat kuat. Perencanaan mereka juga lebih detail dan konsisten," ungkapnya.

    Selain itu konsistensi Vietnam terlihat dari upaya menjadikan manufaktur dan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi. Dua sektor ini juga diandalkan tanpa memprioritaskan infrastruktur seperti di Indonesia.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo juga menyatakan bahwa Indonesia memiliki pesaing baru di Asia Tenggara yakni Vietnam. "Kita punya kesamaan dan komoditas ekspor yang punya daya saing dengan Vietnam. Kita punya produk TPT, perikanan, kain, kulit, kayu, dan kertas. Vietnam juga ada di beberapa komoditi yang sama dengan Indonesia," ujar Dody.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.