BI Rate Turun, Sri Mulyani Ingin Investasi Tumbuh 6 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gestur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019. Pemerintah menyampaikan realisasi APBN 2019 hingga semester I kepada DPR. TEMPO/Tony Hartawan

    Gestur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019. Pemerintah menyampaikan realisasi APBN 2019 hingga semester I kepada DPR. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap penurunan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin ke level 5,75 persen bisa memacu pertumbuhan investasi yang sempat melemah hingga akhir 2018. Sri mengatakan suku bunga acuan pada tahun lalu memang sempat memberi tekanan pada investasi.

    “Kenaikan suku bunga memang kemudian, suka tidak suka, muncul dampaknya pada investasi. Kalau kita lihat, investasi agak melemah pada akhir tahun, yang waktu itu sudah mendekati 7 persen,” kata Sri saat ditemui usai menghadiri rapat bersama Badan Anggaran DPR RI di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 22 Juli 2019.

    Hingga semester pertama 2019 ini, Kementerian Keuangan telah mendapati realisasi investasi tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan semester pertama 2018. Karena itu, Sri Mulyani berharap angka ini terus tumbuh hingga di atas 6 persen. Optimisme ini muncul karena Perry juga telah memberi peluang penurunan kembali suku bunga acuan ke depannya.

    Di sisi lain, pemerintah juga terus memberikan sejumlah insentif bagi industri. Terakhir yaitu dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan Tahun Berjalan atau yang dikenal dengan PP Super-Deductible Tax. Dengan aturan ini, industri bisa mendapat potongan pajak hingga 300 persen, jika terlibat dalam pengembangan vokasi dan inovasi.

    Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juli 2019 akhirnya memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan setelah 8 bulan mempertahankan level 6 persen sejak 15 November 2018. Sedangkan pada 15 Januari 2018, suku bunga acuan masih berkisar di level 4,25 persen.

    Gubernur Bank Indonesia  Perry Warjiyo mengatakan penurunan suku bunga acuan ini akhirnya dilakukan karena mempertimbangkan dua hal penting yakni laju inflasi yang terjaga dan momentum mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. "Kami berkesimpulan ketegangan dagang yang berlanjut terus menekan perdagangan dunia dan memperlambat ekonomi global," kata dia, Kamis, 18 Juli 2019. 

    Di sisi lain, realisasi investasi kenyataannya memang melambat di akhir tahun 2018 seiring dengan bertahannya suku bunga acuan di level 6 persen. Semester pertama 2018, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sebenarnya mencapai Rp 361,6 triliun, tumbuh 7,4 persen dari periode sama tahun lalu.

    Akan tetapi sampai akhir tahun 2018, realisasi investasi hanya mencapai Rp 721,3 triliun, 94 persen dari target. Selain itu, angka ini hanya tumbuh 4,1 persen dibandingkan 2017. "Langsung kelihatan dari data bahwa untuk tahun fiskal 2018 kita tidak berhasil mencapai target," ujar Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019.

    Simak berita lain dari Sri Mulyani di Tempo.co

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.