IHSG dan Rupiah Kompak Menguat Usai BI Turunkan Suku Bunga

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasar merespons positif atas keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan atau BI7 DRR sebesar 25 basis poin dari 6 persen ke 5,75 persen. Hal itu juga disertai penurunan deposit facility 25 basis poin menjadi 5 persendan lending facility 25 basis poin menjadi 6,50 persen.

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bersama dengan nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,49 persen atau 31,59 poin ke level 6.434,88 pada pukul 09.05 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

    Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah pun menguat 47 poin atau 0,34 persen ke level Rp 13.913 per dolar AS per hari ini. Penguatan terjadi setelah rupiah rebound dan berakhir terapresiasi 23 poin atau 0,16 persen di posisi 13.960 kemarin.

    Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, mengatakan bahwa keputusan RDG BI menurunkan suku bunga acuan itu sesuai prediksi. Dasar pertimbangan penurunan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin itu juga dinilai sangat rasional.

    "Timing-nya sungguh tepat, yaitu perkiraan rendahnya inflasi, tensi ketidakpastian global yang menurun serta stabilitas eksternal yang terkendali," ujar Ryan melalui siaran pers, Kamis, 18 Juli 2019.

    Adapun dari aspek maksud dan tujuan penurunan suku bunga, menurut Ryan, sudah tepat dan jitu. Apalagi guna mendorong momentum pertumbuhan, memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang serta memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif.

    Ryan juga mengapresiasi BI yang berupaya untuk menciptakan kebijakan makroprudensial tetap akomodatif sehingga mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. Dengan kata lain, keputusan RDG BI menegaskan bahwa stance kebijakan BI adalah dovish atau kebijakan moneter longgar.

    Lebih jauh Ryan menjelaskan BI melihat bahwa dari sisi eksternal yakni ekonomi global dan internal atau ekonomi domestik cukup terkendali. Oleh sebab itu, risikonya dapat dimitigasikan sehingga tidak ada keraguan bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan.

    Meski demikian, ekonom Insitute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa penurunan suku bunga acuan tersebut masih terlalu kecil. "Harapannya 50 basis poin untuk mengefektifkan stimulus ke perbankan dan sektor riil," katanya.

    Dengan penurunan suku bunga acuan yang lebih besar maka bank akan lebih cepat untuk menurunkan bunga kredit. Hal ini akan mendorong dunia usaha untuk meminta tambahan kredit dari bank yang diikuti dengan ekspansi menuju pasar domestik maupun ekspor.

    Bhima berharap ke depannya BI kembali menurunkan kembali suku bunga acuan sebesar 25 bps sehingga menjadi 5,5 persen mengingat kondisi inflasi dan kurs rupiah serta cadangan devisa yang stabil.

    Penurunan suku bunga acuan juga perlu diimbangi dengan kebijakan fiskal yang lebih tepat sasaran. Menurutnya, hingga saat ini 16 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah masih kurang efektif.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.