Cabai Masih Mahal, Kenapa Kemendag Belum Gelar Operasi Pasar?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani memanen cabai di lahan pertanian lereng Gunung Merapi, Stabelan, Tlogolele, Selo, Jawa Tengah, 22 Mei 2018. Sebagian warga yang mengungsi akibat letusan freatik Merapi pada Senin (21/5), telah beraktivitas meski status Gunung Merapi naik dari Normal menjadi Waspada. ANTARA

    Seorang petani memanen cabai di lahan pertanian lereng Gunung Merapi, Stabelan, Tlogolele, Selo, Jawa Tengah, 22 Mei 2018. Sebagian warga yang mengungsi akibat letusan freatik Merapi pada Senin (21/5), telah beraktivitas meski status Gunung Merapi naik dari Normal menjadi Waspada. ANTARA

    TEMPO.CO, JakartaDirektur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengungkap alasan kementeriannya belum melaksanakan operasi pasar guna menekan harga cabai yang terpantau masih tinggi.

    "Kalau operasi pasar kan kita harus tahu ada barangnya enggak. Kalau kita punya kebijakan operasi pasar tapi enggak ada barangnya bagaimana," ujar Tjahya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019.

    Hingga hari ini, harga cabai memang terpantau masih tinggi. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga cabai rawit merah di pasar tradisional semua provinsi mencapai rata-rata Rp 64.000 per kilogram atau naik 1,51 persen dari hari sebelumnya. Adapun harga cabai merah besar dan cabai merah keriting masing-masing adalah Rp 57.700 per kilogram dan Rp 60.600 per kilogram.

    "Memang masih tinggi, saya masih berupaya bagaimana caranya ini, karena saya tadi sudah minta data ke Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian tapi masih belum dapat," ujar Tjahya.

    Ia mengaku membutuhkan data produksi tersebut untuk melakukan langkah-langkah pengendalian harga. Kalau data itu sudah ia kantongi, Tjahya berujar bisa memerintahkan para pedagang untuk menurunkan harga maupun melakukan operasi pasar.

    Ihwal mahalnya harga bumbu dapur tersebut, Tjahya menduga penyebabnya adalah kurangnya suplai. "Kalau saya sih berpikir harga itu pengaruh dari supply and demand, sehingga bisa jadi begitu (suplai kurang)," ujar dia. Namun, ia mengatakan masih akan melihat data pasti dari produksi cabai tersebut sebelum mengambil kesimpulan.

    Kenaikan harga cabai sudah terpantau sejak pertengahan tahun ini. Harga cabai di sejumlah pasar di Kabupaten Gunungkidul masih mahal dan belum ada tanda-tanda turun. Penurunan harga cabai bakal terjadi saat petani mulai panen.

    Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gunungkidul, Yuniarti Ekoningsih, mengatakan harga cabai merah keriting terpantau mencapai Rp 60.000 per kilogram pada awal awal bulan Juli 2019. Menurutnya, kenaikan harga cabai karena tingginya permintaan, sementara stok yang ada tidak terlalu banyak. "Itu yang menjadi pemicu melonjaknya harga," ucapnya, Jumat, 5 Juli 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.